Bukti keterlibatan AS tidak terbantahkan, terutama setelah penangkapan pilot CIA bernama Allen Lawrence Pope pada 18 Mei 1958. Pesawat Pope ditembak jatuh saat menjalankan misi pengeboman di Ambon, dan ditangkap hidup-hidup oleh tentara Indonesia. Dia membawa dokumen dan logistik yang mengarah langsung pada keterlibatan intelijen Amerika.
Buku “Feet to the Fire: CIA Covert Operations in Indonesia, 1957–1958” karya Kenneth Conboy dan James Morrison menyebut bahwa operasi rahasia ini disetujui langsung oleh Presiden Eisenhower. Ini dikuatkan oleh laporan resmi dari Church Committee tahun 1975 di AS, yang menelusuri penyalahgunaan kekuasaan oleh CIA.
Mengapa Eisenhower Mendukung Pemberontakan Permesta?
Setidaknya ada tiga alasan. Pertama, faktor geopolitik; di mana Indonesia adalah negara kepulauan yang besar di jalur vital maritim antara Samudra Pasifik dan Hindia. Kekuasaan komunis di Indonesia bisa berarti dominasi Soviet di Asia Tenggara.
Kedua, faktor sumber daya alam. Sumatra dan Sulawesi kaya akan minyak dan mineral—sektor yang AS anggap penting untuk perusahaan-perusahaan multinasionalnya.
Ketiga, pengaruh PKI. Dengan semakin dekatnya Sukarno dengan tokoh-tokoh PKI seperti DN Aidit, Eisenhower memutuskan untuk bertindak dengan cara-cara tidak langsung demi mengganti kepemimpinan Indonesia.









