Sebaliknya, Trump cenderung mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin dengan menekan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memberi konsesi tertori kepada Rusia demi penghentian perang yang, menurut Trump, menguras sumber daya AS. Kebijakan tarif Trump dan niatnya meminimalisir peran AS dalam NATO membuat Eropa kewalahan.
Pasalnya, peran militer AS di Eropa sangat strategis sebagai deterrence terhadap ancaman Rusia. Tapi mereka tak punya pilihan lain kecuali menerima realitas. Maka, negara-negara Eropa sudah dua kali duduk bersama membicarakan kelangsungan hidup NATO pasca AS. Pasalnya, mereka melihat Putin sebagai ancaman terhadap keamanan Eropa di masa mendatang.
Mereka ingin mengakhiri perang Ukraina, tapi melalui kekuatan untuk memaksa Rusia maju ke dalam perundingan perdamaian dalam posisi yang lemah. Dengan kata lain, Putin tak boleh diberi kompensasi berupa pencaplokan Crimea, dan wilayah Ukraina timur dan selatan sebagai syarat pengakhiran perang sebagaimana usulan Trump.
Tekanan Trump untuk memaksa Zelenskyy berdamai dengan Rusia dengan syarat-syarat yang ditentukan Putin menimbulkan kemarahan di Eropa. Dan tak mengakhiri krisis. Eropa justru akan memperbesar belanja militernya untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan AS sehingga akan melestarikan eskalasi dengan Rusia.









