Ia juga menyinggung sikap Presiden Prabowo Subianto yang menolak pandangan pesimistis tersebut. Bahkan Presiden menyindir para pengkritiknya sebagai “zwarte Hollanders” atau “Londo Ireng (Belanda Hitam)” — istilah yang digunakan untuk menyebut mereka yang dinilai selalu memandang Indonesia secara negatif.
Menurut Van Bemmel, persoalan utamanya bukan terletak pada satu kebijakan tertentu, melainkan pada keseluruhan arah pembangunan yang kini ditempuh pemerintah. Seluruhnya.
Ia menyebut strategi itu sebagai “Prabowonomics”. Maksudnya, negara menggelontorkan dana besar untuk program makan bergizi gratis, pembangunan tiga juta rumah, pengembangan Ibu Kota Nusantara, penguatan koperasi desa, hilirisasi industri.
Juga, berbagai proyek strategis nasional, serta pembentukan Danantara sebagai kendaraan investasi negara. Keseluruhan agenda tersebut dipandang sangat ambisius, tetapi sekaligus menimbulkan pertanyaan besar mengenai sumber pembiayaannya.
Artikel itu kemudian mempertanyakan apakah pertumbuhan ekonomi sekitar lima persen cukup untuk menopang seluruh agenda tersebut.
Penulis mengemukakan bahwa penerimaan negara belum bertumbuh secepat kebutuhan belanja, sementara investasi swasta belum menunjukkan gairah yang memadai.









