Yang justru perlu dijawab adalah substansi kritiknya. Bila memang ada keraguan mengenai transparansi Danantara, perbaikilah tata kelolanya. Bila investor mengeluhkan kepastian hukum, benahilah regulasinya. Bila pembiayaan program-program besar membutuhkan disiplin fiskal yang lebih kuat, tunjukkan dengan angka, bukan sekadar pidato.
Sebaliknya, bila kebijakan hilirisasi, koperasi, dan industrialisasi memang menghasilkan nilai tambah, lapangan kerja, serta kesejahteraan yang nyata, maka waktu sendirilah yang akan membantah ramalan-ramalan pesimistis itu.
Pada akhirnya, saya justru berterima kasih kepada De Volkskrant. Bukan karena saya sepakat dengan seluruh analisanya, melainkan karena ia mengingatkan bahwa Indonesia kini sedang diperhatikan dunia.
Perhatian itu adalah konsekuensi ketika sebuah bangsa memilih jalan pembangunan yang berbeda. Jalan itu bisa berhasil, bisa pula gagal.
Tetapi keberhasilannya tidak akan ditentukan oleh sehalaman analisa atau tajuk utama sebuah koran di Amsterdam. Ia akan ditentukan oleh kemampuan kita sendiri membuktikan bahwa kemandirian ekonomi bukan sekadar slogan politik, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan rakyat.
Sejarah memang punya selera humor yang ganjil. Dulu kapal-kapal Belanda berlayar berbulan-bulan menuju Nusantara karena yakin negeri ini terlalu kaya untuk dilewatkan.









