Jiwa Laut yang Merdeka
Kami ini pelaut merdeka. Sepanjang hayat mengasinkan badan. Lebam, hitam melegam peluh yang luruh pada musim-musim. Manakala gelombang menyulut naik cakalang, komu dan tuna. Ke haribaan itu kami mendayung ke sana. Sejak nenek moyang kami sudah tahu, lautan hanya punya nama. Ia tidak menaikan bendera, kepada siapa pun juga.
Teluk Ambon, 05 November 2015
filare manu;
Selamatkan satu satu yang bisa diselamatkan. Entah apakah atau siapakah, selamatkanlah! Sopacua, Patimaipauw, Latumahina, Dana Kopra. Apa dan siapa. Entah kenapa, entah mengapa? Ada saja yang tiada. Perihal timbang pergi dan pulang, ombak ombak bergulung di ujung Allang. Masih saja ada nelayan yang meratapi nasib malang. Sekali saja makan, mungkin siang, mungkin malam. Bekal karkaru dengan garam, melayari saarudi teluk dalam. Malam demi malam. Selamat pagi, selamat malam, selamat makan. Salam.
Teluk Ambon, 24 Januari 2016
penna
sebatang pena yang kuambil dari tawiri, sudah bikin dua puisi. gurat hitamnya pada lembar kertas adalah sepekat tolau di tubir-tubir banda. gelap seperti batu-batu belgica.
pada satu malam yang berbahagia, kita pernah mendorong peugeot tua. mesin sialan yang habis bahan bakarnya. satu anak tawiri tertawa-tawa. hidup memang selucu itu.




