Pulang

oleh -583 views

Tonang menyeruput coklatnya, lalu memandangku.

“Bukan narsis, Sasmita. Kamu mungkin mendapati sosok yang kau rindukan padaku.”

“Bapak? Tidak. Aku takkan merindukan Bapak. Aku memang pernah sangat ingin berjumpa dengannya meski hanya satu kali. Berada di provinsi yang sama, bisa jadi kami pernah berada di tempat yang sama, kan? Bahkan saat ini. Lihat kakek dan mas-mas di kasir itu?” Aku menunjuk ke bawah, ke kasir toko buku yang ada terlihat dari tempat kami duduk.

“Aku tidak lagi tertarik mencari Bapak karena terbayang bahwa ia sudah punya keluarga baru. Uang hasil korupnya pasti cukup untuk membeli kehidupan baru. Perempuan berkelas seperti ibuku tidak pantas dihidupi dengan uang korup. Ah, mungkinkah ketertarikanku soal pemberdayaan perempuan karena aku begitu mengagumi ibuku sendiri?”

Kuaduk-aduk Soklat Napoleonku yang tak lagi panas, berharap resah yang muncul ini menguap seperti asap di minuman yang mulai pudar.

Baca Juga  Mendikdasmen: Nasib Guru Honorer Masih Dikaji

“Kapan terakhir kali kamu pulang ke Malang, Sasmita?”

“Natal tahun lalu. Danaku hanya cukup untuk pulang sekali dalam setahun. Kamu tahu Tonang, gaji admin senior di kota ini hanya cukup untuk bersenang-senang tiap bulan dan lebihnya ditabung untuk pulang membawa cerita dan bakpia satu kardus.”

No More Posts Available.

No more pages to load.