Pulanglah ke Ambon

oleh -177 views

Di Batu Merah, siang turun perlahan bersama wangi jajanan yang menunggu tangan-tangan lapar. Sore memanjangkan bayangan ibu-ibu yang duduk bersahaja, menatap jalan sambil menyapa siapa saja yang lewat. Dan malam hari, Batu Merah menawarkan cerita yang berbeda.

Di satu sisi, seorang ibu penjual nasi kelapa membuka lapak dengan tenang, aromanya menyusup hingga ke hati yang kosong. Tak jauh dari sana, Mama U duduk di balik warung kecilnya, menyajikan seporsi Sarimi yang tak pernah gagal menghibur—bukan karena rasa semata, tapi karena cara ia menyapa: seperti tante sendiri yang sudah lama menunggu kepulanganmu.

Di dekat Ambon Plaza, Supira tetap berdiri, tak banyak bicara tapi penuh cerita. Di meja-mejanya, generasi saling bertukar pandang: yang tua mengenang, yang muda menemukan. Di sanalah waktu seolah melambat—karena Ambon tahu cara membuat kita merasa cukup, hanya dengan kehadiran yang tulus.

Baca Juga  6 Alasan Iran Tolak Negosiasi Gencatan Senjata, dari AS Putus Asa hingga 4 Pilar Teheran

Naik sedikit ke Karang Panjang, Ambon terlihat dari sudut yang berbeda. Angin lebih tenang, langit lebih terbuka. Gedung DPRD berdiri dengan wajah serius, menyimpan suara-suara yang datang dengan harapan. Tak jauh dari sana, patung Christina Marta Tiahahu menatap laut dengan mata yang seolah bicara—tentang keberanian, tentang cinta pada tanah yang tak pernah lekang oleh waktu. Di tempat ini, sejarah dan langit seolah saling menyapa.

No More Posts Available.

No more pages to load.