Oleh: Tamsin Yoioga, Warga Fukweu, pemerhati Pariwisata
Viralitas adalah pedang bermata dua. Itulah yang kini tengah dirasakan oleh Pulau Kucing di Fukweu, sebuah pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara. Berkat video arisan yang beredar beberapa hari lalu, nama Fukweu mendadak mencuri perhatian publik. Dalam hitungan hari, warganet membicarakannya, media sosial ramai, dan kemungkinan arus wisatawan pun mulai bergerak ke sana.
Namun, di balik euforia popularitas yang datang begitu cepat, muncul pertanyaan penting: Apakah Fukweu siap menjadi destinasi wisata? Atau justru akan bernasib seperti banyak tempat viral lainnya—cepat naik, cepat tenggelam?
Destinasi Dadakan Tanpa Arah

Sebagai warga asli Fukweu yang kerap mengunjungi pulau ini, saya menyaksikan langsung bagaimana Pulau Kucing bukanlah destinasi wisata dengan infrastruktur layak. Ia adalah pulau sunyi, belum tersentuh perencanaan matang. Sejak pertama kali disebut-sebut sebagai kawasan wisata pada 2017, banyak harapan sempat tumbuh—terutama peluang ekonomi untuk warga. Namun kini, antusiasme itu berubah menjadi kecemasan. Tanpa regulasi, tanpa pengawasan, dan tanpa transparansi, eksistensi pulau ini justru terancam oleh eksploitasi yang tak terkendali.









