Pupusnya NKRI Harga Mati

oleh -3 Dilihat
Ansori

Namun di tengah kegelisahan itu, ada ruang refleksi yang tidak boleh hilang. Hamka mengajarkan bahwa krisis terbesar manusia bukanlah kemiskinan atau kekuasaan yang zalim, melainkan hilangnya akhlak. Sebuah bangsa bisa bertahan dalam kekurangan, tetapi tidak dalam kehilangan moral. Ketika kejujuran ditukar dengan kepentingan, ketika amanah berubah menjadi alat memperkaya diri, di situlah keruntuhan dimulai—pelan, tetapi pasti.

NKRI tidak akan runtuh hanya karena ancaman dari luar. Ia akan rapuh jika nilai-nilai yang menopangnya dikhianati dari dalam. Jika Pancasila hanya menjadi hafalan, bukan pedoman. Jika nasionalisme hanya menjadi teriakan, bukan pengorbanan.

Maka barangkali yang sedang pupus bukanlah NKRI sebagai bentuk negara, melainkan ruhnya. Ruh yang dulu hidup dalam keberanian para pendiri bangsa, dalam kesederhanaan para pejuang, dalam keikhlasan mereka yang percaya bahwa Indonesia adalah milik semua, bukan milik segelintir.
Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang paling keras meneriakkan “NKRI harga mati”.

Baca Juga  Hampir 2 Tahun Pabrik Sagu Beroperasi di Kairatu, Legalitas Izin dan PAD Desa Dipertanyakan

Pertanyaannya adalah: siapa yang masih setia merawatnya dalam diam, dalam kerja nyata, dalam kejujuran yang tidak membutuhkan panggung?
Sebab pada akhirnya, sebuah bangsa tidak diukur dari apa yang ia katakan, tetapi dari apa yang ia lakukan. Dan sejarah, seperti yang selalu terjadi, akan mencatat—bukan siapa yang paling lantang, tetapi siapa yang paling setia.

No More Posts Available.

No more pages to load.