Ramadan di Gaza: Makanan Langka namun Kesedihan Berlimpah

oleh -273 views
Warga Palestina menyiapkan makanan selama bulan suci Ramadan di Rafah pada 13 Maret 2024. Foto/REUTERS

Namun tahun ini, Ramadhan adalah bulan yang menyedihkan. Jalan-jalan malam hari yang semarak di Gaza kini menjadi sunyi senyap.

Dulunya ada kehidupan, kini tinggal puing-puing. Suara gembira anak-anak yang bermain telah digantikan tangisan menyayat hati dari orang-orang yang masih terjebak di bawahnya.

“Pada hari pertama Ramadan, saya berjalan-jalan mencari kemiripan dengan masa lalu. Sedikit harapan yang saya miliki malah menjadi kesadaran yang menyakitkan tentang betapa banyak kerugian yang telah kami alami,” papar dia.

Hanya beberapa kios yang tersisa di pasar luar ruangan yang dulunya ramai, menjual lemon, terong, tomat, dan sabun cuci buatan sendiri dalam jumlah sedikit.

“Wajah-wajah yang saya temui dipenuhi dengan kesedihan dan keputusasaan. Pada saat itu, saya tidak bisa menahan tangis atas hilangnya kenangan berharga itu,” ungkap Ghada Alhaddad.

Baca Juga  Ironi Tembok Apologis di Tengah Ancaman “Indonesia Bangkrut”

Lampu dan lentera berwarna-warni yang biasa menghiasi jalan telah digantikan oleh ledakan bom yang keras dan kehancuran total.

Masjid-masjid, yang dulu penuh sesak dengan jemaah, kini kosong atau menjadi reruntuhan. Para imam sekarang mengimbau individu untuk beribadah di dalam rumah atau tenda darurat mereka sendiri.

Kehancurannya telah melampaui lanskap visual. Suasana malam Ramadan yang dulu dipenuhi salat Tarawih di masjid dan pengajian, tergantikan oleh suara ledakan bom Israel.

No More Posts Available.

No more pages to load.