Rejim Scopus

oleh -2 Dilihat

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

SEORANG profesor Indonesia tiba-tiba menjadi bahan pembicaraan di kalangan akademik di Malaysia. Menurut situs berita retractionwatch.dom, sang profesor mencatut nama-nama staff akademik sebuah universitas di Malaysia dalam publikasinya dibanyak jurnal.

Sialnya, para akademik di Malaysia ini tidak pernah bekerja sama dengan sang profesor. Mereka juga tidak pernah dihubungi. Nama mereka ditempel sebagai pengarang (co-author) dalam berbagai jurnal.

Sang profesor, yang merupakan profesor termuda ke-4, di lingkungan Dikti, memang pernah mengunjungi universitas di Malaysia tersebut. Namun dalam kunjungan tersebut ia tidak mengajak para akademik tersebut untuk menulis bersama di jurnal. Dia hanya menjajagi kemungkinan kerjasama antar universitas.

Sang profesor pun rupanya juga sangat produktif. Untuk tahun 2024 ini saja, dia sudah menerbitkan 160 judul karya! Seratus enam puluh! Padahal tahun ini baru berlalu sekitar 105 hari.

Baca Juga  Iran Akui Tekanan Finansial akibat Perang dan Sanksi AS, tetapi Tegaskan Tetap Dukung Sekutu Regional

Ketika mendengar itu produktivitas ini, saya ingat cerita Pramoedya ketika diejek Idrus karena produktivitasnya. “Kau menulis seperti berak,” begitu konon kata Idrus, yang membuat Pram sakit hati kepadanya, walaupun dia menganggap Idrus sebagai gurunya.

No More Posts Available.

No more pages to load.