Ada banyak hal yang salah dimengerti dalam dunia akademik kita. Saat ini, seolah-olah dunia akademik adalah sebuah cara untuk menjadi aristokrat modern. Semua orang harus menjadi doktor dan profesor hanya karena snobisme. Yang tidak dimengerti adalah jalan untuk menjadi doktor itu adalah cara “magang” untuk menjadi guru (profesor). Orang harus mengajar, mengoreksi paper, dan menerbitkan karangan di jurnal untuk menjadi doktor.
Nah, sang profesor kita ini, tentu mengalami itu semua. Namun mengapa ia bertingkah seperti yang dia lakukan? Saya tidak yakin ini hanya keserakahan pribadi. Ini adalah soal sistemik dalam dunia akademik Indonesia — yang sangat jauh dari kecemerlangan jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN sekalipun. (*)









