Firdaus mungkin telah pergi, tapi ia meninggalkan jejak. Namanya abadi di Lembah Firdaus, mengalir bersama derasnya air Terjun Manukupa. Sebuah tempat yang sunyi, di mana suara alam seolah menyanyikan doa yang tak henti.
Namun kisahnya tak berakhir di sana. Ia hidup dalam ingatan para relawan, dalam langkah-langkah kecil yang mereka ambil di jalan-jalan kota, dan dalam simpul doa dari orang-orang yang bahkan tak pernah bertatap muka dengannya.
Terima kasih, Firdaus. Kau bukan hanya sebuah nama dalam kabar duka. Kau adalah pengingat, bahwa masih banyak hati yang rela bergerak untuk sesama. Dan lewatmu, kami belajar. Bahwa menjadi anak Maluku bukan hanya soal asal-usul, tapi tentang cara kita merawat nilai. Tentang bagaimana kita menyambut, menjaga, dan mengantar siapa pun yang datang.
Masohi, 20 Mei 2025








