“Artinya, potensi perikanan bukan hanya sekadar isu, tetapi dalam perspektif kebijakan politik daerah, HL sebagai kepala pemerintah, menilai potensi income untuk pendapatan daerah cukup besar bagi Maluku,” ungkapnya.
Proyek pengelolaan perikanan Maluku, lanjut Rovik, harus didorong dalam skala besar dan masif, dengan menyiapkan strategi perikanan moderen dan industrialisasi yang tidak eksploitatif.
“Daerah harus mendapat income dari potensi yang dimiliki, dan pak gub telah mengkonsolidasikan itu bersama DPRD Maluku,” tegasnya.
Rovik mengatakan, sebagai politisi yang lahir dari bawah, HL cukup paham dengan dinamika sosial. Ketika gejolak sosial yang mengoyak sendi persaudaraan masyarakat Maluku, HL turun langsung. Menguatkan kembali pondasi kebudayaan, memfasilitasi perdamaian, menjadi ruang berjumpanya keluh kesah dan amarah rakyat.
Sebagai gubernur, HL tidak bekerja di balik meja. Tidak hanya hadir secara seremoni. HL itu hemat bicara, tapi banyak strategi komunikasi yang dibangun tanpa publisitas.
“Konflik sosial beberapa waktu lalu, kita menyaksikan bagimana HL menjadi titik temu segala persoalan. Kemampuan merajut hubungan sosial mencerminkan jika HL adalah seorang pemimpin yang lahir dari akar rumput,” ujarnya.











