Ruang Hening

oleh -60 views

Cerpen Karya: Fildzah Ghaisani

Menjadi mahasiswa semester akhir merupakan sebuah fase terberat bagi beberapa orang, termasuk aku. Menjadi anak pertama perempuan juga bukanlah hal yang mudah. Berbagai ekspektasi orangtua menjadi beban tersendiri untukku. Aku takut mengecewakan mereka, aku takut tidak bisa membuat mereka bangga. Aku dituntut harus bisa mandiri, melakukan apapun sendiri. Saat usiaku mulai memasuki kepala dua di sinilah semuanya bermula.

Saat ini, aku tengah duduk di ruang keluarga bersama kedua orangtua dan juga adikku, lalu tiba-tiba mamaku bertanya, “Kamu kapan lulusnya?” dan aku menjawab, “Doakan aja ma, secepatnya.”
“Mama harap kamu bisa cepat selesai, terus lanjut cari kerja.” Ucap mama lagi, aku hanya mengangguk sebagai jawaban, jujur aku sebenarnya tidak nyaman dengan situasi seperti ini dengan pertanyaan sama yang sudah berulang kali ditanyakan.

Aku melangkah masuk ke kamar, sebelum itu aku minta izin ke orangtuaku agar tidak menggangguku dulu, karena aku ingin fokus mengerjakan skripsi di kamar dengan tenang.

Sebenarnya hari ini bertepatan dengan wisuda ke-80 di kampusku. Beberapa teman seangkatanku sudah ada yang lulus dan wisuda hari ini. Jujur aku iri dan tidak sanggup untuk sekedar menghadiri dan mengucapkan selamat kepada mereka. Aku tahu bahwa proses setiap orang berbeda-beda, aku sudah berdamai dengan kenyataan itu. Hanya saja terkadang orang-orang di sekitarku tidak memahami hal itu dan mereka terlalu berekspektasi tinggi pada diriku.

Aku menatap laptopku yang menyala, tatapanku mengarah pada skripsi yang tak kunjung selesai karena ada beberapa kendala yang membuatku sulit menyelesaikannya, pikiranku berkelana jauh, pikiranku bak benang kusut yang sulit untuk diurai. Overthinking dimulai.

Di sudut ruang kamarku yang gelap ini, aku banyak merenung dan berakhir dengan menyalahkan diri sendiri. Pertanyaan-pertanyaan seperti “Mengapa aku tidak bisa seperti mereka? Mengapa prosesku tidak semulus mereka?” terus muncul di kepalaku, namun segera kutepis.

Semenjak memasuki semester akhir ini aku sering merasakan stress, jam tidur yang berantakan, insomnia setiap malam karena overthinking, aku juga kehilangan motivasi dan semangat. Bahkan dinding di kamarku menjadi saksi bisu bagaimana gelisahnya diriku memikirkan masa depan. Aku yakin bukan aku saja yang merasakan hal ini, banyak mahasiswa semester akhir di luar sana yang juga merasakan hal yang sama denganku.

Baca Juga  Empat Catatan Setelah Pemilu 2024

Dulu, saat awal masuk kuliah aku termasuk mahasiswa yang aktif dan kritis. Bahkan aku juga aktif di beberapa organisasi intra dan ekstra kampus. Aku merasa diriku yang sekarang berbeda dengan diriku yang dulu.

Dulu aku adalah anak yang ambis, indeks prestasiku di atas 3,5 bahkan ada yang 4,0. Tetapi sekarang, seperti tak ada gairah untuk menyelesaikan apa yang sudah kumulai ini, aku merasa kesepian karena sudah tertinggal jauh oleh teman-temanku. Setiap melihat story mereka saat seminar proposal dan sidang kolokium aku menjadi minder, bahkan teman-temanku yang dulu tidak begitu mencolok ketika di kelas bisa mendahuluiku, hal itulah yang tak kusangka.

Baca Juga  Website KPU Diduga Bermasalah, Suara Caleg DPRD Maluku Dapil Kota Ambon Banyak Hilang

Aku sudah berusaha semaksimal yang kubisa, limit kemampuanku hanya aku yang tahu. Aku yakin Tuhan sudah menyiapkan rencana yang indah di masa depan. Aku akan berdamai dengan diriku, aku akan menikmati prosesku meskipun rasanya aku harus jungkir balik menghadapinya. Aku sudah terlalu jauh, tak boleh ada kata mundur. Aku berterimakasih kepada diriku sendiri yang sudah kuat untuk sampai pada titik ini.

Dan untuk kamu yang juga sedang berada di posisi ini, percayalah ada rencana indah yang telah Tuhan siapkan untukmu, ada baju toga yang menantimu dan ada senyuman bangga dari kedua orangtua yang akan menemani di hari bahagiamu nanti. Tetap semangat dan jangan lupa bersyukur, nikmati proses karena kita adalah orang yang hebat versi diri kita sendiri. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.