Saatnya Prabowo Menjadi Prabowo

oleh -98 views
Ansori

Oleh: M. Isa Ansori, Kolumnis, Dosen Pengajar Psikologi Komunikasi

Seorang pemimpin besar tidak lahir dari tepuk tangan para pendukungnya. Ia lahir dari keberanian mendengar kritik yang paling keras sekalipun. Sejarah mengajarkan bahwa kekuasaan yang hanya dikelilingi pujian akan kehilangan kemampuan membaca kenyataan. Ketika itu terjadi, negara berjalan tanpa kompas, dan pemimpin kehilangan arah.

Hari-hari ini suara mahasiswa kembali menggema di jalanan. Sebagian menuntut evaluasi kabinet, sebagian meminta penghentian program-program yang dianggap bermasalah, sebagian lagi menyuarakan kegelisahan atas kenaikan biaya hidup yang semakin menekan rakyat. Sayangnya, kritik-kritik tersebut sering kali dipahami sebagai serangan terhadap pemerintah. Padahal, bisa jadi yang sedang terjadi adalah bentuk kepedulian terakhir sebelum kepercayaan publik benar-benar menghilang.

Baca Juga  Brasil Ditahan Maroko 1-1, Persaingan Grup B Piala Dunia 2026 Kian Ketat

Presiden Prabowo Subianto perlu melihat fenomena ini dengan perspektif yang berbeda. Tidak semua pengkritik adalah musuh. Tidak semua yang bersuara keras ingin menjatuhkan pemerintah. Banyak di antara mereka justru ingin menyelamatkan pemerintahan ini dari jebakan yang tidak disadari.

Persoalan terbesar yang sedang dihadapi Prabowo bukanlah mahasiswa, bukan pula para pengkritik di media sosial. Persoalan terbesarnya adalah bayang-bayang masa lalu yang masih terlalu kuat mengelilingi pemerintahannya. Di mata publik, banyak kebijakan yang dianggap sebagai kelanjutan dari pemerintahan sebelumnya. Banyak figur di lingkaran kekuasaan juga dipersepsikan lebih loyal kepada warisan politik lama dibanding kepada agenda perubahan yang dijanjikan kepada rakyat.

No More Posts Available.

No more pages to load.