Untuk memperkuat pemahaman peserta, pelatihan menghadirkan staf Stasiun Meteorologi Kelas II Ambon, Merson Panggua, serta staf Stasiun Meteorologi Kelas III Banda Naira, Fadhil.
Direktur Eksekutif Yayasan SAHARI Petrus Wairissal, mengatakan perpaduan antara data ilmiah BMKG dan pengetahuan kearifan lokal menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun ketangguhan masyarakat pesisir dan pulau kecil.
Menurut Petrus, bekal tersebut dibutuhkan agar nelayan dan petani di tiga desa dampingan Yayasan SAHARI di Kepulauan Banda mampu melakukan mitigasi dan beradaptasi secara mandiri terhadap perubahan iklim.
“Mengapa Yayasan SAHARI memilih Kepulauan Banda sebagai wilayah pendampingan karena wilayah ini salah satu wilayah yang sangat terdampak perubahan iklim,” kata Petrus, yang akrab disapa Piet.
Data BMKG Dibawa ke Tingkat Desa, Pokja Jadi Ujung Tombak
Melalui program Desrana Kepulauan, Yayasan SAHARI kemudian menggandeng BMKG untuk mendistribusikan SICI hingga ke masyarakat di tingkat desa.
Untuk memastikan distribusi berjalan, dibentuk tim Pokja yang masing-masing beranggotakan tiga orang di setiap desa.
Selain membentuk tim, Yayasan SAHARI bersama pihak terkait juga menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) mengenai teknis penyebaran SICI.
Informasi nantinya disampaikan Pokja melalui berbagai saluran yang dekat dengan masyarakat, mulai dari pengeras suara masjid, grup WhatsApp hingga marinyo.









