Carl Drews dari NCAR, penulis utama studi tersebut, menjelaskan simulasi komputer memperlihatkan angin timur yang bertiup sepanjang malam dapat mendorong air ke arah pantai utara Mesir. Dorongan ini membuka daratan berlumpur sehingga orang-orang dapat melintas sebelum air kembali menutup area tersebut.
Dalam riset itu, para peneliti memanfaatkan data geografi kuno untuk memperkirakan lokasi dan kedalaman saluran air di delta Nil pada masa lampau. Mereka menemukan bahwa angin dengan kecepatan sekitar 101 kilometer per jam dapat membentuk jembatan darat yang cukup tinggi dan kering dalam waktu kurang lebih empat jam.
“Laut yang membelah bisa dimengerti melalui pergerakan air yang dinamis. Kekuatan angin menggerakkan air sesuai dengan hukum fisika, menciptakan areal yang aman dilewati dengan air di kedua sisi. Kemudian air kembali lagi ke tempatnya semula,” ujar Drews.
Selain teori angin, ada pula penelitian lain yang menyinggung kemungkinan tsunami sebagai penyebab surut dan naiknya air Laut Merah. Namun, penjelasan ini dinilai kurang sesuai dengan gambaran dalam kitab suci yang menyebut laut terbelah secara bertahap dalam satu malam.
Para peneliti juga mengajukan dugaan lokasi terjadinya peristiwa tersebut. Mereka memperkirakan kejadian itu berlangsung di bagian utara Mesir, yang kini berada di sekitar wilayah Port Said, dekat ujung Terusan Suez.









