Sementara itu, tim ilmuwan dari University of Leicester, Inggris, menyebut terbelahnya Laut Merah kemungkinan dipicu oleh empat kondisi alam sekaligus, yakni gelombang negatif, angin timur, pasang surut, dan gelombang Rossby.
Gabungan keempat faktor tersebut dinilai terjadi secara bersamaan dan saling mendukung, sehingga permukaan air laut dapat tersibak dan membentuk jalur yang bisa diseberangi Nabi Musa AS dan para pengikutnya.
Analisis mereka menunjukkan bahwa fenomena meteorologi berperan besar dalam memicu kondisi ekstrem tersebut. Angin yang sangat kuat dan bertiup terus-menerus dapat menekan permukaan air di satu wilayah sekaligus, sehingga air terdorong dan menumpuk ke arah berlawanan.
Dorongan angin inilah yang kemudian membuka jalur kering, sebelum akhirnya air kembali seperti semula.
“Kondisi itu telah banyak didokumentasikan, termasuk di delta Sungai Nil pada abad ke-19 ketika angin kencang mendorong air setinggi sekitar lima kaki dan membuka sebuah lahan kering,” kata Rebekah Garratt dan Rikesh Kunverji, para peneliti dalam laporan berjudul How did God part the Red Sea?
Meski berbagai penelitian telah memberikan penjelasan dari sisi sains, banyak pihak yang menegaskan peristiwa terbelahnya Laut Merah tetap dianggap mukjizat. Kejadian ini menunjukkan kekuasaan Tuhan yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan lewat ilmu pengetahuan.









