Setelah seluruh pasukan kumpul, Muhammad Al-Fatih mengajukan tiga pertanyaan. Semuanya tentang salat.
Pertama, “Siapa di antara kalian sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan salat fardhu, meski sekali, silakan duduk!”
Ternyata tak ada satu pun yang duduk. Setelah itu, Muhammad Al-Fatih mengajukan pertanyaan kedua, “Siapa di antara kalian sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan salat sunnah rawatib, meski sekali, silakan duduk!”
Setengah pasukan kemudian duduk. Artinya, setengah pasukan Muhammad Al-Fatih menjaga salat rawatibnya.
Pertanyaan ketiga kemudian diajukan. “Siapa di antara kalian sejak akil balig sampai hari ini pernah meninggalkan qiyamul lail, meski hanya semalam, silakan duduk!”
Ternyata semua pasukan pernah meninggalkan qiyamul lail, mereka lantas duduk. Satu-satunya orang yang tetap berdiri adalah Muhammad Al-Fatih.
Muhammad Al-Fatih kemudian menjadi imam dan mempercayakan khutbah Jumat kepada Syekh Aaq Syamsuddin, salah satu gurunya yang berperan besar dalam memberikan motivasi dan semangat untuk menaklukkan Konstantinopel.
sumber: detikhikmah











