Tetapi, publik terkejut ketika mengetahui bahwa wilayah itu ternyata dirusak oleh pertambangan nikel. Sungguh tidak terbayangkan, bagaimana para pengeruk tambang nikel itu bisa tega merusak alam yang perawan nan molek itu.
Ketika hal ini viral dan protes meluas, jawaban yang diberikan oleh para pengeruk nikel itu menggelikan. Ada yang mengatakan bahwa wilayah pengerukan berada di luar area wisata alam Raja Ampat, dan karenanya aman. Dia merasa hebat dengan alasan itu. Padahal justru kelihatan betapa bodoh dan miskin wawasannya mengenai lingkungan.
Seorang komisaris dari ormas Islam besar juga melakukan pembelaan diri, dengan mengatakan bahwa lokasi penambangan bukan masuk dalam lokasi wisata, dan karenanya ia berkesimpulan tidak akan mengganggu ekosistem Raja Ampat.
Sekali lagi. Betapa miskinnya pemahaman kita mengenai lingkungan. Betapa rendahnya kesadaran kita mengenai lingkungan. Ketika penambangan dilakukan di luar area wisata seolah-olah semua aman, tidak akan ada dampak terhadap ekosistem lingkungan.
Para aktivis lingkungan menyebut teori ‘’butterfly effect’’ atau efek kupu-kupu untuk menggambarkan ekosistem lingkungan seluruh dunia yang saling berhubungan. Kepak saya kupu-kupu di California, bisa menyebabkan badai besar di China, karena kepak kecil itu bisa memengaruhi cuaca yang menyebabkan terjadinya tornado ribuan kilometer dari tempat sang kupu-kupu.










