Sebuah Meteor Bernama Tulus

oleh -197 views

Hingga hari ini, Tulus adalah tetap meteor yang hidup dalam telinga, pikiran, dan jiwa jutaan orang. Pecahan-pecahan meteor itu juga menjelma menjadi ratusan karya ilmiah berbentuk skripsi, tesis, dan artikel ilmiah yang dibaca, didiskusikan, dan membekas dalam kesadaran anak-anak muda Indonesia. Ia adalah bagian kecil namun penting dari rangkaian upaya untuk memberikan ruang yang leluasa untuk menghayati kehidupan, menarik pelajaran indah dari kemalangan, merefleksikan nilai dari semua yang tak menyenangkan. Tulus adalah semacam anomali di tengah-tengah dunia yang tidak lelah meracuni pikiran manusia dengan gambaran-gambaran yang menjauhi realitas. Ia menyediakan kesempatan yang luas untuk memahami realitas melalui pintu masuk yang tidak biasa. Lagu-lagunya menjadi ‘ruang sendiri’ tempat orang bisa leluasa menemukan contoh kemerdekaan berpikir yang diwujudkan dalam teknik naratif dengan keajaiban-keajaiban metafora yang agak berbeda dengan cara kebanyakan orang. Semua itu disajikan selalu dengan santun dan ikhlas; tanpa ada tendensi untuk menggurui.
Beri aku kesempatan ‘tuk bisa merindukanmu… (Jangan datang terus)
Beri juga aku ruang bebas dan sendiri… (Jangan ada terus)
….
Kita tetap butuh ruang sendiri-sendiri
Untuk tetap menghargai, oh, rasanya sepi… (Ruang Sendiri – Tulus, 2016)

No More Posts Available.

No more pages to load.