Oleh: Falantino Erick Latupapua, Akademi FKIP Unpatti & Musisi
KALAU ada meminta nama penyanyi Indonesia yang punya lesatan paling luar biasa dalam dasawarsa terakhir, saya punya calon tunggal: Tulus. Dalam waktu sebulan belakangan ini, khazanah musik populer Indonesia menjadi gemerlapan dengan kemunculan album Manusia yang dirilis oleh Muhammad Tulus pada tanggal 3 Maret yang lalu. Setelah single terakhirnya, “Adaptasi”, yang dirilis tahun 2020, kini ia kembali memanjakan telinga dan rasa dengan album berisi sepuluh lagu pop dan jazz yang dikemas kebanyakan dalam tempo medium dan mood riang. Menurut beberapa sumber berita, dalam waktu kurang dari seminggu album ini telah diputar hampir sejuta kali di pelantar musik digital Spotify dan mencapai peringkat 100 besar secara global.
Bagi saya, album ini makin menunjukkan kematangannya dalam bermusik. Tidak percaya? Lihatlah cara ia memberikan tenaga pada liriknya dari tema-tema biasa namun tetap kontemplatif yang ia sebut sebagai “ragam dinamika rasa manusia”. Pilihan katanya tidak bisa dianggap tidak biasa namun caranya mengalimatkan lirik benar-benar patut dipuji. Ia juga mengemas puitika (cara bertutur) dengan perpaduan rima yang andal berjalin; metrum yang bersenyawa sempurna dengan notasi yang mengagumkan. Ia tidak mengajari pendengar untuk berumit-rumit dengan makna tetapi membiarkan diksi nan puitik itu menyusup pelan-pelan dalam ruang-ruang kesadaran pendengar. Saya sendiri, yang selalu membiasakan diri menyimak lirik dengan sungguh-sungguh, baru bisa memahami maksudnya dengan utuh setelah menyimak beberapa kali tanpa kehilangan selera dan kekaguman. Lirik adalah kekuatan terbesar dalam lagu-lagunya.








