Dalam kehidupan, setiap orang barangkali memiliki “sekerat daging” yang berbeda. Ada yang datang dalam bentuk kekuasaan, ada yang menyelinap melalui uang, ada pula yang hadir sebagai kesempatan untuk memperoleh sesuatu dengan jalan pintas. Kadang godaan itu bahkan lebih halus: keinginan untuk dipuji, diakui, atau dianggap penting.
Bahkan godaan sering datang ketika seseorang merasa dirinya sudah cukup kuat untuk menolaknya. Ia tidak selalu datang dengan wajah yang menakutkan. Justru sebaliknya, ia hadir sebagai sesuatu yang masuk akal, menguntungkan, bahkan terasa pantas untuk diambil. Di titik itulah batas antara kebutuhan dan keserakahan, antara hak dan kesempatan, menjadi begitu tipis.
Kita sering mengira integritas tampak dalam keputusan-keputusan besar. Padahal, ia lebih sering dibentuk oleh pilihan kecil yang berulang. Dari sanalah kebiasaan lahir, lalu kebiasaan membentuk watak. Seseorang mungkin tidak kehilangan nama baiknya dalam satu malam, tetapi ia dapat perlahan-lahan mengikisnya setiap kali membiarkan kepentingan sesaat mengalahkan prinsip yang pernah diyakininya.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya apa yang diperoleh dari “sekerat daging” itu, melainkan apa yang hilang setelahnya. Keuntungan bisa segera dinikmati, tetapi kepercayaan membutuhkan waktu panjang untuk dibangun. Dan ketika kepercayaan telah retak, tidak selalu ada cara mudah untuk mengembalikannya seperti semula.










