Sekerat Daging dan Harga Sebuah Komitmen

oleh -47 Dilihat

Oleh: Ady Amar, Kolumnis

Watak seseorang diuji, itu ketika tidak ada yang memaksa, tidak ada yang mengawasi, tetapi ada kesempatan untuk mengambil sesuatu yang bukan haknya. Pada saat seperti itu, seseorang sebenarnya sedang memilih—bukan hanya antara mengambil atau menahan diri, melainkan antara kepentingan sesaat dan sesuatu yang telah lama ia bangun.

Ada sebuah kisah metaforis tentang seekor anjing yang ingin mengganti namanya. Ia merasa nama yang disandangnya tidak cukup baik. Kepada harimau, penguasa hutan, ia meminta agar namanya diganti.

Harimau tidak serta-merta mengabulkannya. Ia justru memberi ujian sederhana. Anjing itu diminta menjaga sekerat daging miliknya sampai pagi. Jika berhasil, namanya akan diganti.

Persoalannya ternyata bukan menjaga daging itu. Persoalannya adalah menahan diri untuk tidak memakannya.

Baca Juga  Tak Lengkapi Izin Daerah, Operasional Maksim di Halsel Terancam Dibekukan

Semakin lama, aroma daging menjadi godaan. Perut yang lapar berhadapan dengan amanah yang harus dijaga. Tidak ada yang pmelihat. Tidak ada yang akan segera mengetahui jika daging itu hilang. Hanya ada seekor anjing, sekerat daging, dan pilihan yang sepenuhnya berada di tangannya.

Di situlah sebuah komitmen menemukan ukurannya. Bukan pada kata-kata yang pernah diucapkan, melainkan pada kemampuan seseorang menjaga sesuatu ketika kesempatan untuk mengingkarinya terbuka lebar.

No More Posts Available.

No more pages to load.