China juga meminta G7 menghormati upaya negara-negara kawasan, menghentikan semua kata-kata dan tindakan yang tidak bertanggung jawab, dan memberikan kontribusi yang konstruktif bagi perdamaian dan stabilitas kawasan.
“Mengingat pemulihan ekonomi global yang lamban saat ini, G7 seharusnya fokus pada tata kelola dan kerja sama ekonomi global daripada meningkatkan masalah maritim dan memicu ketegangan di kawasan,” sambung juru bicara itu.
Komunike tersebut juga berfokus pada aspek sengketa Laut China Selatan yang harus diperhatikan oleh para pejabat Filipina dengan penuh minat.
Dikatakan, G7 menganggap “penghargaan 12 Juli 2016 yang diberikan oleh Pengadilan Arbitrase di bawah Unclos (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Hukum Laut) sebagai dasar yang berguna untuk upaya lebih lanjut menyelesaikan sengketa secara damai di Laut China Selatan.”
Diketahui pula, situasi sengketa Laut China Selatan antara China dan Filipina saat ini sedang menegang.
Filipina pun telah menghadap Pengadilan Arbitrase Permanen yang ditunjuk oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk menantang klaim China bahwa mereka memiliki hampir semua Laut China Selatan.
Dalam keputusan yang akhirnya menguntungkan Filipina, pengadilan itu menghancurkan prinsip “sembilan garis putus-putus” China, yang menjadi fondasi klaim teritorialnya.




