Oleh: Yusuf Blegur, Kolumnis
DPR telah lama menjadi stempel kekuasaan bagi dugaan kejahatan entitas politik legislatif dan yudikatif. Dari gedung parlemen berubah menjadi layaknya bangunan margasatwa.
Sebelumnya, kawasan tertentu di daerah Senayan itu menjadi tempat orang-orang terhormat dan terpercaya yang mewakili rakyat Indonesia. Orang-orang pilihan yang disumpah atas nama Tuhan dan berjanji mengemban amanat rakyat. Suaranya, kebijakannya bahkan seluruh hidupnya sudah tertuang dalam konstitusi mengedepankan kepentingan rakyat.
Namun apa lacur yang terjadi pada anggota dewan perwakilan rakyat. Seiring waktu secara perlahan namun pasti terus bertransformasi dari manusia mulia menjadi aneka binatang. Bukan binatang dalam wujud fisik, melainkan sifat dan watak yang tergambar dari ucapan, pola pikir dan perilakunya. Kebenaran dan keadilan sulit terasa bahkan sekedar mencium aromanya di tempat wakil rakyat itu. Distorsi penyelenggaraan negara terlalu sering berujung sah dan resmi melalui sidang parlemen.
Entah kegembiraan atau kesedihan yang menyakitkan. Dalam gempuran pajak yang eksploitatif, kemiskinan yang menyelimuti dan napas sesak menahun rakyat, DPR justru menari-nari, sumringah dan terbahak-bahak penuh kebahagiaan. Terus melahirkan nelangsa rakyat seraya meminta tambahan gaji dan fasilitas anggota dewan.









