Arab Saudi berhasil mencegat rudal yang mengarah ke Pangkalan Udara Pangeran Sultan, sementara di UEA dilaporkan terjadi kebakaran kecil di fasilitas militer dekat Dubai akibat proyektil.
Sirene peringatan juga sempat terdengar di Dubai, menandakan meningkatnya ancaman keamanan di kawasan.
Selat Hormuz dan Ancaman Energi Global
Ketegangan turut meningkat di Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak global. Iran mengancam membatasi akses bagi Amerika Serikat dan sekutunya.
Dampaknya, harga minyak mentah dunia melonjak tajam dan bertahan di atas US$100 per barel, naik lebih dari 40 persen sejak konflik dimulai pada akhir Februari 2026.
Fasilitas Nuklir dan Peringatan Internasional
Di Iran, fasilitas nuklir Bushehr dilaporkan terdampak serangan, namun IAEA memastikan tidak ada kerusakan signifikan maupun korban jiwa.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menyerukan semua pihak untuk menahan diri guna menghindari risiko kecelakaan nuklir.
Keterlibatan AS dan Biaya Perang
Amerika Serikat melalui Komando Pusat dilaporkan turut menyerang situs rudal Iran di sekitar Selat Hormuz. Presiden Donald Trump bahkan menyatakan frustrasi atas minimnya dukungan sekutu.
Sejak operasi dimulai 28 Februari 2026, AS disebut telah menghabiskan sekitar US$12 miliar atau setara Rp203 triliun. Lembaga seperti Center for Strategic and International Studies memperkirakan biaya perang bisa mencapai ratusan juta dolar per hari.









