Hashed al-Shaabi dibentuk pada 2014 untuk membantu memerangi kelompok ekstremis dan kemudian diintegrasikan secara resmi ke dalam struktur angkatan bersenjata Irak. Namun, sejumlah brigadenya tetap dikenal memiliki kedekatan dengan Iran dan kerap menjalankan operasi secara independen.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan operasi militer tersebut telah dikoordinasikan dengan pemerintah Irak. Pernyataan itu disampaikan di tengah meningkatnya tekanan Washington agar Baghdad melucuti kelompok-kelompok bersenjata pro-Iran yang selama ini dituduh berulang kali menyerang pangkalan militer AS di Irak.
Perdana Menteri Irak Ali al-Zaidi, yang mulai menjabat tahun ini, sebelumnya berjanji akan memperkuat kendali negara atas seluruh kelompok bersenjata. Namun, upaya tersebut disebut masih menghadapi penolakan dari sejumlah faksi yang memiliki pengaruh kuat.
Kelompok Pro-Iran Ancam Balasan, Baghdad Kecam Serangan
Aliansi Perlawanan Islam di Irak, yang beranggotakan sejumlah kelompok bersenjata pro-Iran, menyatakan akan memberikan respons terhadap operasi militer tersebut.
Dalam pernyataannya, kelompok itu menyebut balasan terhadap Amerika Serikat tidak dapat dihindari dan mengisyaratkan kemungkinan menyasar kepentingan AS di Arab Saudi. Meski demikian, mereka menyatakan aksi tersebut baru akan dipertimbangkan setelah peringatan Arbaeen, salah satu momentum keagamaan terbesar umat Muslim Syiah.











