Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore
DI DUNIA ini banyak hal yang ganjil. Anda menonton penganugrahan Oscar kemarin? Ketika komedian Chris Rock dipukul oleh aktor Will Smith karena Smith tersinggung akan lelucon Chris Rock yang menyinggung istrinya?
Saya sebenarnya tidak begitu tahu situasi itu. Hanya karena ia jadi perbincangan di media sosial Indonesia, saya ikut menoleh kesana. Ia jadi kontroversi. Banyak orang membela Will Smith karena membela bininya — bahwa lelucon tentang menghilangnya rambut Jada Smith adalah karena sakit yang dideritanya.
Tapi, banyak orang menunjuk bahwa Will Smith tertawa dengan lelucon itu, sebelum dia melihat bininya nggak tertawa, dan akhirnya dia memutuskan naik ke panggung dan menampak Chris Rock.
Saya kira, saya setuju dengan Stephen Colbert, seorang komedian lain di Amerika. Menampar seorang komedian di depan kamera dan disaksikan orang banyak adalah kelakuan yang sangat tidak pantas. Kalau Anda tidak setuju dengan lawakan seorang komedian, cukup jangan tertawa! Itu sudah penghinaan tertinggi untuk seorang komedian.
Will Smith akhirnya meminta maaf ke Chris Rock. Dan Chris sendiri juga tidak membuat pengaduan ke polisi. Saya tidak bisa membayangkan situasi ini terjadi di Jakarta di tengah penyerahan piala Citra FFI, misalnya. Para artis tentu saling lapor ke polisi.









