Sesuatu Tentang Gorden

oleh -57 views
Link Banner

Oleh: Made Supriatma, Peneliti dan jurnalis lepas. Saat ini bekerja sebagai visiting research dellow pada ISEAS-Yusof Ishak Institute, Singapore

DI DUNIA ini banyak hal yang ganjil. Anda menonton penganugrahan Oscar kemarin? Ketika komedian Chris Rock dipukul oleh aktor Will Smith karena Smith tersinggung akan lelucon Chris Rock yang menyinggung istrinya?

Saya sebenarnya tidak begitu tahu situasi itu. Hanya karena ia jadi perbincangan di media sosial Indonesia, saya ikut menoleh kesana. Ia jadi kontroversi. Banyak orang membela Will Smith karena membela bininya — bahwa lelucon tentang menghilangnya rambut Jada Smith adalah karena sakit yang dideritanya.

Tapi, banyak orang menunjuk bahwa Will Smith tertawa dengan lelucon itu, sebelum dia melihat bininya nggak tertawa, dan akhirnya dia memutuskan naik ke panggung dan menampak Chris Rock.

Saya kira, saya setuju dengan Stephen Colbert, seorang komedian lain di Amerika. Menampar seorang komedian di depan kamera dan disaksikan orang banyak adalah kelakuan yang sangat tidak pantas. Kalau Anda tidak setuju dengan lawakan seorang komedian, cukup jangan tertawa! Itu sudah penghinaan tertinggi untuk seorang komedian.

Baca Juga  Konflik Ukraina dan Indonesia

Will Smith akhirnya meminta maaf ke Chris Rock. Dan Chris sendiri juga tidak membuat pengaduan ke polisi. Saya tidak bisa membayangkan situasi ini terjadi di Jakarta di tengah penyerahan piala Citra FFI, misalnya. Para artis tentu saling lapor ke polisi.

Tapi baiklah. Kita beralih ke komedi yang lain, yaitu komedi gorden. Mungkin ini bukan murni komedi juga. Atau paling tidak ini adalah sebuah “tragicomédia.”

Apakah Anda pernah mendengar bahwa Sekretariat DPR akan mengganti gorden-gorden di rumah dinas anggota DPR? Iya, Sekretariat DPR akan membelanjakan Rp 47,8 milyar untuk mengganti korden di semua rumah anggota DPR.

Terakhir gorden-gorden itu diganti pada 2009. Jadi sudah 13 tahun tidak diganti. “Sebagian besar itu gordennya tidak ada. Sebagian itu hilang dan dibuang karena memang sudah lapuk karena tidak memadai. Saya nggak tega menyampaikan itu, sudah 13 tahun, seperti kain pel,” demikian kata Sekretaris Jenderal RI Indra Iskandar sebagaimana dikutip kumparan.

Ada 505 rumah dinas anggota DPR. Dengan beaya 47,8 milyar berarti bahwa setiap rumah akan mendapat anggaran 94,7 juta untuk korden dan vitrase (gorden dalam).

Baca Juga  Songsong HUT Kemerdekaan RI Ke 76, Kodam Pattimura Gelar Doa Bersama Lintas Agama

Lebih dari 90 juta untuk mengganti gorden? Apalagi katanya semua gorden yang akan dipakai adlah produk dalam negeri.

Saya melihat rumah dinas para anggota DPR ini. Satu unit rumah dinas ini berlantai dua, yang terdiri atas 5 kamar, 1 di bawah 4 di lantai atas, 1 ruang kerja yang terletak di depan, 1 ruang tamu, dapur, taman belakang, garasi, dan 4 kamar mandi.

Ada 11 jendela yang harus diberi gorden. Kalau kita ambil saja rata-ratanya, maka satu jendela akan menghabiskan Rp 8,6 juta rupiah! Luar biasa, bukan?

Saya tidak tahu, gorden apa yang harganya Rp 94,7 juta rupiah untuk rumah seukuran rumah dinas DPR. Sekretariat DPR mengatakan bahwa anggota-anggota DPR mengeluh karena dalam rumahnya terlihat dari luar pada malam hari.

Baca Juga  Pandora Papers

Sebagai publik kita memang wajib tahu. Juga, mengapa sampai gorden saja, para anggota DPR ini harus minta ke negara? Mereka sudah dapat tempat tinggal gratis. Masak urusan gorden saja tidak bisa diurus sendiri? Sementara kita tahu bahwa penghasilan anggota-anggota DPR kita tidak kecil. Jauh diatas rata-rata penghasilan orang Indonesia.

Satu lagi yang saya baca di media, sebagian besar rumah dinas ini kosong melompong dan tidak dihuni. Para anggota DPR pernah meminta bahwa rumah jabatan ini diganti dengan tunjangan perumahan saja. Sudah menjadi rahasia umum bahwa para anggota DPR lebih suka menyewa apartemen ketimbang tinggal di rumah dinasnya.

Saya tahu, tidak ada yang lucu dari gorden ini. Tidak ada yang lucu. Hanya tragis saja. Tragis karena para pegawai negara (ya anggota DPR itu dipilih untuk menjadi pegawai negara — civil servant! — memerah apa yang bisa mereka perah dari negara yang seharusnya mereka layani. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.