Statuta Roma Mahkamah Pidana Internasional bahkan mengkualifikasikan serangan terhadap objek sipil, termasuk fasilitas kesehatan dan bangunan pendidikan atau riset, sebagai kejahatan perang.
Tapi coba dengar briefing Pete Hegseth, “US Secretary of war” di Pentagon. Militer Amerika, katanya, tidak boleh tunduk pada “stupid rules of engagement”.
Begini lengkapnya:
“America… is unleashing the most lethal and precise air power campaign in history… all on our terms with maximum authorities. No stupid rules of engagement. No nation-building quagmire, no democracy-building exercise. No politically correct wars. We fight to win.”
“Precise air power campaign”. Jadi menghancurkan jembatan dan pusat riset kanker di Iran memang direncanakan? Bagaimana dengan rudal Tomahawk yang menghancurkan bangunan sekolah dasar dan menewaskan 160 orang anak-anak perempuan yang sedang belajar?
Dan bom dijatuhkan di Iran — tapi kerusakan terbesar sebenarnya terjadi di Amerika Serikat. Atau dalam kalimat Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi:
“Striking civilian structures, including unfinished bridges, will not compel Iranians to surrender. It only conveys the defeat and moral collapse of an enemy in disarray. Every bridge and building will be built back stronger. What will never recover: damage to America’s standing.”








