John Paul Lederach mengajarkan bahwa perdamaian adalah proses yang tidak bisa dipaksa berjalan cepat. Ada tahap-tahap yang harus dilalui: menenangkan, memulihkan, baru kemudian memahami.
Di fase awal pascakonflik, masyarakat belum siap dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan rasional. Mereka masih sibuk merapikan serpihan batin mereka sendiri—mencoba memahami apa yang baru saja terjadi, sambil perlahan belajar percaya bahwa esok tidak akan lebih buruk dari hari ini.
Dalam fase seperti itu, yang dibutuhkan bukanlah interogasi, melainkan kehadiran.
Kepemimpinan yang Menyentuh
Seorang pemimpin, terlebih di wilayah yang rapuh oleh luka sosial, tidak hanya diukur dari ketegasannya dalam menyampaikan kebenaran. Ia juga diuji oleh kemampuannya untuk merasakan sebelum berbicara.
Ucapan Sherly Tjoanda mungkin lahir dari niat baik—menghentikan siklus kekerasan yang kerap dipicu oleh rumor dan ketidakpastian. Namun niat baik, ketika tidak dibungkus empati, kerap kehilangan daya jangkaunya. Ia berhenti sebagai pesan, tanpa sempat menjadi penguat.
Padahal, masyarakat yang sedang terluka tidak hanya membutuhkan arah. Mereka membutuhkan seseorang yang berdiri di samping mereka dan berkata, tanpa syarat:
“Saya tahu ini berat. Dan kalian tidak sendiri.”









