Kita tidak lagi mendengar orang-orang yang bertarung menjadi Walikota, harus bangun sana sini.
“Kalaupun ngomongnya begitu, buset dan omong kosong, karena yang dibangun adalah nilai. Olehnya itu, nilai dasar pendidikan penting dimunculkan dengan kemandirian, maka disitulah akan melahirkan orang-orang teknokrat yang mempunyai visi kecerdasan, pendirian, dan rasa cinta kepada daerah ini lebih tinggi,” cetusnya.
Dengan demikian, jangan berbangga naik di atas mobil dan tinggal di rumah mewah, tapi sumbernya didapatkan dari kekuasaan.
“Saya menyatakan sikap maju sebagai Walikota, kaena saya sudah selesai dengan diri saya, baik secara ekonomi, sosial, politik. Apabila belum tuntas, dan begitu terpilih menjadi walikota, dia akan berfikir menggarap kepala dinas untuk mengembalikan utang yang akhirnya mencederai dinamika politik,” ujarnya.
Rizal menyebutkan, partai yang nantinya mengusung dirinya untuk bertarung di Pilwako Tikep sebanyak 8 partai, tapi belum menyebutkan partai apa.
“Saya tidak menyebutkan partai apa, tetapi kurang lebih 8 partai, yakni, 3 non parlemen, 5 di DPRD. Akan tetapi jawabannya adalah ukurannya hasil pemilu berikut, namun komunikasi maupun silaturahmi di lintas partai saya sudah membangun semua itu, terutama di tingkat pusat. Dan saya juga sering berkomunikasi baik dengan NasDem, Golkar, PAN, Demokrat, dan Berkarya sampai saat ini,” pungkasnya. (len)




