Snobisme atau Apa Arti Kemewahan

oleh -295 views

“Oh, suamiku lo ya, jadi … Emang suaminya jadi apa?”

“Halah wong ndeso, ae! Nggak pernah hidup di luar negeri. Nggak tahu merasakan hidup jetset seperti di Philadelphia, New York, London … “

“Suamiku sebentar lagi jadi gubernur. Lha, suamimu?”

Persaingan antar anggota keluarga itu kadang jauh lebih keras, kejam, dan brutal. Di dalam kajian tentang genosida ada yang namanya ‘intimate killings,’ yakni pembunuhan terhadap keluarga dekat yang terjadi karena perebutan berbagai macam hal: status, kekayaan material, kekayaan simbolik. Dan biasanya pembunuhan macam itu jauh lebih keji ketimbang pembunuhan tidak dikenal.

Apa yang tampak sebagai keluarga sejahtera (“keluarga cemara”) dari luar, belum tentu guyub, rukun, dan akur.

Baca Juga  Polda Maluku Temui Raja Dullah, Tegaskan Pelaku Konflik di Tual Akan Ditindak Tegas

Balik ke soal menantu itu tadi, ada kawan yang menanyakan, apakah dia nggak tahu apa yang dia lakukan? Kan kemarin dia dan suaminya sudah dirujak habis-habisan oleh khalayak? Iki konslet po ra nduwe utek? begitu tanyanya sarkastik.

Saya cenderung menjawab: tidak keduanya. Untuk memahami ini, saya kira sangat penting kita menengok lagi bacaan-bacaan lama seperti studinya Hildred Geetz (The Javanese Family) atau Saya Siraishi tentang keluarga Jawa di masa Orde Baru (Silahkan Masuk, Silahkan Duduk), atau karya etnografi yang sangat jenial dari James T. Siegel (Solo in the New Order), atau John Pamberton (On the Subject of Java). Ini semua studi-studi lama yang dianggap ketinggalan jaman di studi antropologi.

No More Posts Available.

No more pages to load.