Solahuddin Tak Akan Dijewer Tuhan

oleh -374 views

Para tokoh Islam bersuara keras. Dr. Nurcholish Madjid yang biasa beropini cermat dan berkata santun, misalnya, mendesak pemerintah supaya membredel Monitor, dan meminta untuk “melarang (Monitor) terbit untuk selama-lamanya.”

Bagi Cak Nur, perbuatan Arswendo dan Monitor “seperti menarik karpet dari kaki meja.” Semuanya jadi terjungkal dan berantakan. Ia amat menyayangkan mengapa hubungan Islam-Katolik yang sudah sangat baik, harus dirusak dengan cara seperti itu. Monitor kemudian kontan stop terbit — juga atas “kesadaran” penerbitnya — dan Arswendo divonis beberapa tahun penjara karena “penistaan agama.”

Bagi pemerintah Orde Baru, yang selalu gatal untuk meredam kebebasan pers, kasus Monitor adalah durian runtuh. Bukan pemerintah yang bernisiatif membredelnya, tapi desakan kencang dari mayoritas besar masyarakat sendiri.

Baca Juga  5 Shio Paling Beruntung di Bulan Mei 2026, Keberkahan dari Melepaskan

Pemerintah hanya mengakomodasi desakan itu, dan perangkat-perangkat hukumnya pun dengan sigap mengerjakan proses logis untuk dengan cepat menghukum yang dianggap bersalah.

Peristiwa itu sedikit-banyak kemudian membuat semua media cenderung bersikap “self-censorship” jika tidak ingin bernasib seperti Monitor, dan akhirnya sikap sensor-diri juga diterapkan untuk isu-isu lain, bukan hanya untuk isu rawan yang bersentuhan dengan emosi umat Islam.

No More Posts Available.

No more pages to load.