Mengenang Sang Guru Komunikasi

oleh -87 views
Link Banner

Oleh: Hasan Bahta, Alumni FISIP UMMU

AWAL Tahun 2011, Saya tenggelam dalam keasyikan menjadi wartawan tanpa memperdulikan kapan kuliah akan berakhir. Sejak 2009 saya telah memutuskan menjadi jurnalis meskipun belum wisuda sarjana. Di mulai dari harian Mimbar Kieraha yang kala itu urusan redaksional dipimpin langsung Guru Komunikasi pada Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Dr. Helmi Alhadar. Dialah yang mengajarkan saya tentang jurnalistik baik secara teoritis maupun praktis.

Setelah membaca dan mengedit berita yang saya tulis untuk diterbitkan, dia memanggil saya untuk duduk di sampingnya sambil menjelaskan kekurangan-kekurangan dalam penulisan berita saya itu. “Hal penting yang perlu diperhatikan seorang wartawan adalah akurat dalam menulis, ini mutlak” jelasnya ke saya. Katanya, berita yang tidak akurat, tidak bisa dipegang kebenarannya. Media massa yang berulangkali menyajikan berita yang tidak akurat, akan kehilangan reputasinya, kehilangan kepercayaan dari pembaca. Prinsip ini yang ia tegakkan sehingga mampu mengubah kualitas produk jurnalistik Mimbar Kieraha selama ia pimpin. Seluruh wartawannya diwajibkan meliput dengan mengedepankan aspek akurasi, tanpa ini berita tidak akan dipublikasikan.

Selain akurasi, cover both side, dan teknik wawancara yang jitu, ia juga menekankan pentingnya untuk tidak menerima amplop dari narasumber berita. Mengenai hal ini, Dr. Helmi punya pengalaman menolak pemberian amplop dari sumber berita. Saat menjadi wartawan, ia pernah melempar amplop yang diberikan kepadanya oleh salah anggota DPRD Provinsi Maluku Utara, yang saat itu masih berkantor yang kini menjadi kantor Kejaksaan Negeri Kota Ternate. Saya mendengar cerita ini dari temannya bukan dari diri sendiri. Setelah saya tanyakan perihal pengalamannya menolak amplop itu, ia hanya tertawa tipis sambil mengatakan, wartawan sebisa mungkin menghindari menerima amplop, karena itu berkontribusi negatif. Harusnya ada perasaan bersalah dan bahkan hina jika disebut “wartawan amplop”. Akan tetapi, kata dia, dalam tugas-tugasnya meliput berita di lapangan, wartawan terkadang tidak bisa menghindarinya. Banyak sumber berita yang cenderung memberikan amplop setelah acara konferensi pers. Dr. Helmi lebih jauh menjelaskan, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kecenderungan itu malah kini menjadi kebiasaan. Sumber berita menyediakan amplop sebagai “tanda terimakasih” kepada wartawan yang menghadiri acaranya dan berharap berita yang dimuat “yang baik-baik saja”.

Tentang amplop ini, saya ajukan pertanyaan sederhana kepadanya, haruskah wartawan menerima amplop itu? Atau sebaliknya menolaknya? Jawabannya sangat tergantung pada hati nurani masing-masing wartawan. Tapi Dr. Helmi menjelaskan lebih detail, bahwa dalam Kode Etik Jurnalistik (KEJ) disebutkan wartawan menolak imbalan yang dapat mempengaruhi objektivitas pemberitaan”. Dia menekankan kepada saya, wartawan tidak boleh menerima suap dalam bentuk apapun. Sebab harus diakui, wartawan yang menerima imbalan dari sumber berita pasti merasa sungkan misalnya mengkritik atau memberitakan tentang keburukan si sumber berita.

Baca Juga  Timnas Spanyol Rekrut 17 Pemain Cadangan Jelang Euro 2020 / 2021

Selama kurang lebih setahun bersama Dr. Helmi di media ini, saya pamit untuk bergabung dengan anak perusahaan Mimbar Kieraha yakni Tribun Malut, media ini secara konsisten fokus pada isu hukum dan kriminal. Berkat ilmu dan pengajaran praktis dari Dr. Helmi saya pun bertekad untuk menjadikan wartawan sebagai jalan pengabdian. Karena itu, setelah dari Tribun Malut, saya hijrah lagi ke Fajar Malut, kurang lebih empat bulan saya memutuskan ke Tobelo, Halmahera Utara untuk bergabung di Radar Halmahera, anak perusahan Malut Post, persis di awal 2011. Dr Helmi rupanya sudah tidak fokus di media, tapi justru benar-benar serius mengajar di kampus, dengan menjabat sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi.

Baca Juga  BI Perwakilan Maluku Gelar Kegiatan UMKM Showcase Bertajuk “Recover Together Recover Stronger”

Bagi saya, Dr. Helmi adalah satu-satunya dosen ilmu komunikasi yang memiliki kemampuan yang sangat mumpuni dalam bidang jurnalistik utamanya tentang teknik penulisan berita. Membaca berita hasil karyanya sangat enak, membuka wawasan, dan mengalir secara epik. Sebagai mahasiswanya, saya kenal betul dosen yang satu ini. Pengetahuannya tentang teori-teori komunikasi tak tertandingi. Hampir semua teori dalam Ilmu Komunikasi ia menguasainya. Mulai dari teori komunikasi antar pribadi, budaya hingga komunikasi massa. Karena kemampuannya itu, dia sering diundang dalam dialog-dialog bergensi di ruang publik Maluku Utara, mulai dari politik hingga masalah sosial lainnya.

Berkat kasih sayangnya kepada saya, pada pertengahan 2011, Dr. Helmi menelepon saya, setelah menanyakan kabar dan pekerjaan, ia langsung mengajukan pertanyaan serius dengan suara khasnya” Hasan, kapan selesai kuliah, apa masalahnya, kan ente sudah ujian proposal. Pokoknya besok ente ke kampus dulu, selesaikan kuliah baru balik lagi?”. Saya hanya bisa mengiyakan sambil mencari alasan yang tepat untuk minta izin ke pemimpin redaksi. Dengan dibantu Dr. Helmi, saya diizinkan kembali ke Ternate untuk selesaikan kuliah.

Setelah tiba di Ternate, saya berjibaku menyelesaikan skripsi, saya memilih metode kualitatif kajian kepustakaan, hanya fokus mengutak-atik sejumlah buku sebagai referensi. Saya mengambil judul : Pesan Perjuangan dalam Puisi – Puisi Chairil Anwar, Pendekatan Semiotika. Saya dibimbing Pak Fahmi Alhadar, Dosen sastra Unkhair dan Dr. Thamrin Husain. Singkatnya, saya mengikuti ujian dan dinyatakan lulus.

Pada suatu hari, saya bersama Ardi Tomagola dan Irman Saleh juga beberapa teman seangkatan lainnya, yang secara kebetulan bercanda dengan Dr. Helmi di depan ruang Prodi Ilmu Komunikasi, Kampus B UMMU Ternate. “Setelah wisuda, kami akan kembali ke dunia jurnalistik pak,” kata saya. Dia langsung merespon pernyataan saya. “Kalau Ardi dan Irman mungkin saja cocok jadi wartawan hebat ke depan. Sedangkan Hasan tidak cocok jadi wartawan,” jawabnya sambil menunjuk serius ke arah saya.

Baca Juga  Sejarah Karier Utha Likumahuwa, Penyanyi Suara Emas dari Ambon

Dia melanjutkan, ” Saya adalah ketua prodi sekaligus orang tua kalian. Sebagai orang tua, saya tahu karakter dari masing-masing anak. Kamu Hasan, lebih cocok jadi seorang politisi ketimbang jurnalis” ungkapnya. Apa yang dikatakan Dr. Helmi itu semacam kompas yang mengarahkan langkah kehidupan saya setelah itu. Sejak 2012 saya lupakan dunia jurnalistik dan memulai arena pengabdian yang lain, dari menjadi penyelenggara pemilu hingga menjadi tim sukses.

Pada pukul. 19. 23 WIT, seorang teman seangkatan Arifin Aunaka tiba-tiba menelepon dan memberitahu bahwa Sang Guru Komunikasi kita, Pak Helmi telah berpulang kerahmatullah untuk selama-lamanya. Secara pribadi, saya benar-benar merasa terpukul dengan kabar duka ini. Untuk memastikan kabar ini, saya buka facebook, dan benar, ucapan belasungkawa menghiasi laman Facebook milik orang Maluku Utara. Masyarakat Maluku Utara kehilangan sosok yang smart, yang selalu tampil di media membicarakan masa depan masyarakat Maluku Utara. Semoga kebaikannya selama hidup mengantarkan beliau ke tempat yang layak disisiNya. Almarhum menghembuskan nafas terakhir pada pukul. 09.00 WIB, Kamis 21 Juli 2022, persis usianya genap 52 tahun. Dr. Helmi pergi saat sedang sangat produktif sebagai dosen, penulis, dan pengamat politik Maluku Utara. (*)

No More Posts Available.

No more pages to load.