Menurut riwayat yang terdapat dalam Sunan at-Tirmidzi yang berasal dari Abu Hurairah RA, Al Jahjah adalah seorang budak. Hal ini mengacu pada sabda Rasulullah SAW, “Malam dan siang tidak akan lenyap sampai seseorang dari kalangan budak bernama Jahjah berkuasa.”
Al Jahjah juga dikenal sebagai orang yang sangat kejam dan keji. Diriwayatkan dalam Shahih Muslim,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَخْرُجَ رَجُلٌ . مِنْ قَحْطَانَ يَسُوقُ النَّاسَ بِعَصَاهُ
Artinya: “Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda, ‘Kiamat tidak akan terjadi, kecuali setelah seorang laki-laki keluar dari Qahthan sambil menggiring manusia dengan tongkatnya.” (HR Muslim)
‘Umar Sulaiman al-Asyqar menjelaskan, maksud “menggiring manusia” dalam hadits tersebut adalah bahwa Al Jahjah menguasai manusia dan hal ini membuat mereka mengikuti dan menaati apa yang diperintahkan oleh Al Jahjah. Adapun, maksud “dengan tongkat” mengandung makna menunjukkan kekerasan dan kekejaman Al Jahjah.
Ibn Hajar dalam kitab Fath al-Bari mengatakan, kata jahjah memiliki arti shayyah (tukang azab), yakni sifat seperti tongkat.
Tidak ada riwayat yang menjelaskan secara pasti arah Al Jahjah saat menjadi pemimpin, apakah orang ini akan menggiring manusia menuju kebaikan atau kejahatan.










