Estetika Viral dan Politik Citra dalam Lagu “Mas Bahlil Ganteng”

oleh -21 views

Oleh: Dino Umahuk, Jurnalis dan sastrawan nasional

Di era ketika perhatian adalah mata uang paling mahal, sebuah lagu sederhana bisa menjelma menjadi instrumen politik yang halus namun efektif. Fenomena viral lagu “Mas Bahlil Ganteng” (MBG) di media sosial adalah contoh mutakhir bagaimana budaya populer, algoritma digital, dan komunikasi politik berkelindan dalam satu tarikan napas. Ia ringan di permukaan, tetapi menyimpan resonansi yang dalam di bawahnya.

Lagu itu, dengan lirik yang repetitif dan mudah diingat, menyebar seperti desir angin di musim timur. Potongan-potongan liriknya menjadi mantra digital yang diulang tanpa lelah:

“Mas Bahlil ganteng, senyumnya bikin adem…”
“Kalau dia datang, semua jadi tenang…”
“Mas Bahlil, oh Mas Bahlil, idaman semua orang…”

Sekilas, ia tampak seperti sekadar pujian ringan yang bersandar pada estetika personal. Namun dalam dunia komunikasi politik, tidak ada yang benar-benar “sekadar”. Setiap simbol, setiap narasi, bahkan setiap nada, berpotensi menjadi kendaraan makna.

Baca Juga  Keluarga Korban Kasus Kecelakaan yang Diduga Libatkan Anggota DPRD Tual Tolak Damai

Antara Persona dan Persepsi

Tokoh yang dirujuk dalam lagu tersebut, Bahlil Lahadalia, bukan sekadar individu, melainkan representasi dari konstruksi citra yang sedang dibangun di ruang publik. Dalam teori komunikasi politik, ini dikenal sebagai personalization of politics—pergeseran fokus dari ideologi dan program ke figur dan kepribadian.