Hanya saja, banyaknya umpan yang dilakukan Spanyol terbilang mubazir. Sebab, berdasarkan statistik positional report, mereka lebih banyak memainkan bola di area tengah. Persentasenya mencapai 43 persen, lebih besar dari area yang seharusnya dieksploitasi Spanyol, yakni pertahanan lawan (37 persen).
2. Lini tengah mandek, depan tumpul
Lini tengah Spanyol yang diisi trio Rodri, Koke, dan Pedri, tak bisa leluasa mendistribusikan bola ke depan. Selain para pemain Polandia yang lebih banyak menunggu di area pertahanan sendiri, trisula andalan Enrique ini minim kreasi. Walhasil, para pemain depan kesulitan untuk bisa mengacak-acak pertahanan Polandia.
Kondisi itu diperburuk dengan para penyerang yang sering membuang peluang di depan mata. Selain Morata yang gagal mencetak gol walau sudah mencoba empat kali tembakan, peran Dani Olmo dalam laga ini sangat minim. Dia hanya bisa melakukan satu sepakan plus 49 sentuhan saja.
Tekanan menang yang ada di pundak para pemain, membuat Spanyol tak bisa tampil lepas. Akibatnya para pemain depan juga tampil terburu-buru, hingga akhirnya tak bisa mencetak gol.
3. Polandia main keras
Sebaliknya, efektivitas mampu dipertontonkan para penggawa Polandia sepanjang laga. Total mereka melakukan 22 tekel sukses, 30 sapuan, dan 16 intersep. Dan yang paling berperan besar dalam melakukan hal itu adalah Bartosz Bereszynsk. Dia mampu melakukan lima tekel yang membuat para pemain Spanyol tak bisa berbuat banyak.









