Stavoren

oleh -43 views

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Kami menginap di Stavoren. Desa kecil, menurutku. Tetapi warganya membusungkan dada dan berbangga bahwa dusun mereka merupakan kota.

Setidak-tidaknya, sejak abad ke-11, Stavoren resmi mendapatkan status sebagai ‘kota’. Ini berarti bahwa permukiman itu berhak 1) membangun benteng, 2) menyelenggarakan pasar (mingguan) dan 3) menarik pajak (tol) lalu-lintas (di Friesland, lalu-lintas perairan).

Sekitar 300 tahun Sebelum Masehi, di tepian Sungai Nagele berdiiri permukiman yang dikenal dengan nama Stavren atau Stavron, yang berarti ‘permukiman di dekat tonggak’. Dalam bahasa Fries, ‘staven’ berarti ‘tonggak’. Barangkali tonggak yang dimaksud adalah tonggak-tonggak yang dipancangkan di tepian sungai untuk tempat mengikat perahu atau kapal.

Di abad ke-11, Stavoren menjadi kota dagang yang penting. Tidak mengherankan karena letaknya memang strategis di antara Amsterdam dan negeri-negeri di Laut Timur.

Baca Juga  Proyek Irigasi Mangkrak, Petani Desa Bangul Terancam Gagal Panen

Pada tahun 1285, Stavoren menjadi anggota ‘hanze’, suatu lembaga kerjasama antara pedagang dan berbagai kota. Hanze itu dapat dibayangkan sebagai semacam Uni Eropa di abad pertengahan, tetapi dalam skala kecil dan hanya untuk kota-kota di negeri-negeri tertentu saja, terutama dalam jalur perdagangan Laut Timur.