Stavoren

oleh -32 views
Link Banner

Oleh: Frieda Amran, Anthropolog, penulis dan pemerhati sejarah, bermukim di Belanda

Kami menginap di Stavoren. Desa kecil, menurutku. Tetapi warganya membusungkan dada dan berbangga bahwa dusun mereka merupakan kota.

Setidak-tidaknya, sejak abad ke-11, Stavoren resmi mendapatkan status sebagai ‘kota’. Ini berarti bahwa permukiman itu berhak 1) membangun benteng, 2) menyelenggarakan pasar (mingguan) dan 3) menarik pajak (tol) lalu-lintas (di Friesland, lalu-lintas perairan).

Sekitar 300 tahun Sebelum Masehi, di tepian Sungai Nagele berdiiri permukiman yang dikenal dengan nama Stavren atau Stavron, yang berarti ‘permukiman di dekat tonggak’. Dalam bahasa Fries, ‘staven’ berarti ‘tonggak’. Barangkali tonggak yang dimaksud adalah tonggak-tonggak yang dipancangkan di tepian sungai untuk tempat mengikat perahu atau kapal.

Link Banner

Di abad ke-11, Stavoren menjadi kota dagang yang penting. Tidak mengherankan karena letaknya memang strategis di antara Amsterdam dan negeri-negeri di Laut Timur.

Baca Juga  Silaturahmi Dengan Ketua MUI, Wujud Kedekatan Kodam Pattimura Dengan Ulama

Pada tahun 1285, Stavoren menjadi anggota ‘hanze’, suatu lembaga kerjasama antara pedagang dan berbagai kota. Hanze itu dapat dibayangkan sebagai semacam Uni Eropa di abad pertengahan, tetapi dalam skala kecil dan hanya untuk kota-kota di negeri-negeri tertentu saja, terutama dalam jalur perdagangan Laut Timur.

Pedagang-pedagang dan kapal-kapal dari Friesland berperan penting sebagai pemasok gandum untuk Holland (misalnya untuk Amsterdam di Holland utara dan Den Haag di Holland selatan).

Konon, Stavoren sempat dianggap sebagai pintu gerbang ke Friesland. Karena letaknya di perbatasan di antara Holland dan Friesland, dalam berbagai perang di antara kedua daerah itu, Stavoren pernah memilih berpihak pada Holland; namun dalam peperangan lain, warga kota itu memilih pihak Friesland. Tetapi sekarang, Stavoren jelas bangga dengan identitasnya sebagai sebuah kota di provinsi Friesland.

Baca Juga  Benny Wenda Minta Dukungan Negara-Negara Pasifik Desak PBB Evaluasi Pepera

Dusun-dusun dan kota di Friesland terbelah-belah oleh sungai-sungai kecil dan kanal. Hampir semua rumah dibangun di tepian air, seperti di Palembang zaman dulu.

Di Friesland, halaman depan setiap rumah ada di darat, dengan mobil dan sepeda terparkir di dekat pintu. Halaman belakang ada di tepian sungai dengan dermaga kecil untuk kapal atau perahu.

Yang membuatku terkagum-kagum adalah kerapian dan keasrian halaman depan maupun belakang setiap rumah itu. Air sungai begitu bersihnya! Teratai tumbuh di mana-mana. Ini menandakan bahwa airnya bersih.

Alangkah beda dengan sungai-sungai di Palembang. Di kotaku itu, rumah dibangun di atas tiang dan garang (dapur) letaknya di atas air. Praktis. Sampah dapur tinggal dibuang ke sungai dan semua itu akan dibawa mengalir ke laut.

Baca Juga  Pertamina Pastikan Stok BBM di Maluku dan Papua Aman

Duluuuuuu sekali, mungkin, sampah yang dibuang ke sungai masih dapat di’olah’ oleh alam: daun pisang pembungkus bahan makanan hancur oleh air sebelum sampai ke laut; sisa makanan berupa nasi, tulang ikan, sisa sayur habis dimakan ikan dan orang Palembang minum air hangat atau teh atau kopi dari gelas.

Tetapi sekarang, bahan makanan dari pasar dibawa dalam kantong-kantong plastik, orang haus minum Aqua botol atau gelas dan banyak orang yang laper-laper-ngga memuaskan nafsu ngemilnya dengan merebus mi instan yang terbungkus mangkok stirofom atau plastik. 🙁

Plastik. Lebih abadi daripada cinta. (*)