Dalam periode enam tahun studi, sekitar 7 persen dari total 3.597 pasangan, atau sekitar 245 pasangan, akhirnya memutuskan untuk bercerai. Angka ini memberikan gambaran tentang tingkat perceraian yang terjadi dalam sampel penelitian.
Namun, temuan paling krusial adalah mengenai persepsi yang salah. Pasangan yang yakin bahwa pasangannya bahagia dalam pernikahan, padahal kenyataannya pasangannya tidak bahagia, memiliki persentase perceraian tertinggi. Mereka 13 hingga 14 persen lebih mungkin untuk berpisah, menunjukkan betapa merugikannya ketidakselarasan persepsi ini.
Ketidakpahaman terhadap perasaan pasangan dapat menjadi sinyal peringatan besar bagi sebuah hubungan. Jika seseorang berpikir pasangannya akan jauh lebih buruk tanpanya, padahal pasangannya justru akan lebih bahagia, ini adalah tanda yang jelas adanya masalah serius yang perlu segera ditangani. Sebaliknya, pasangan yang keduanya percaya bahwa pasangannya akan “lebih buruk” atau “jauh lebih buruk” jika mereka mengakhiri hubungan, justru memiliki tingkat perceraian di bawah rata-rata, yaitu 4,8 persen.
Pentingnya Komunikasi dan Kesadaran Diri dalam Hubungan
Psikoterapis Abby Rodman menjelaskan bahwa kesadaran diri yang jujur tentang kebahagiaan dalam pernikahan seringkali lebih langka dari yang kita bayangkan. Menurut Rodman, orang yang benar-benar bahagia dalam pernikahan tidak perlu mempertanyakan kebahagiaan mereka; mereka hanya merasakannya secara alami.









