Subaim, Lumbung yang Runtuh Saat Sawah Mengering oleh Tambang

oleh -679 views

“Air yang masuk ke sawah sekarang warnanya seperti teh pekat. Siapa mau tanam padi di situ?” ujar Sumarno, petani Subaim yang kini beralih menjadi tukang ojek, Minggu (20/7/2025).

Bukan hanya air. Debu dari alat berat, suara ledakan tambang, dan kontaminasi tanah membuat warga semakin sulit untuk bertani. Akibatnya, dari ratusan hektare sawah, hanya segelintir yang masih ditanami secara tradisional dengan hasil tak seberapa.

Transmigrasi yang Diabaikan

Subaim bukan sekadar kampung biasa. Ia adalah kawasan transmigrasi strategis yang dibuka oleh pemerintah pusat pada era 1980-an. Ribuan kepala keluarga asal Jawa, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur ditempatkan di Subaim dalam program nasional penyebaran penduduk dan penguatan produksi pangan.

Baca Juga  Kesepakatan Damai Iran-AS Disebut Libatkan Kurir Rahasia, Ini Penjelasannya

Mereka membuka hutan, membuat sawah, membangun bendungan dan jaringan irigasi yang kini rusak parah akibat aktivitas tambang.

Subaim kala itu menjadi sentra produksi padi terbesar di Maluku Utara, menyuplai beras ke kota-kota di pesisir seperti Buli, Maba, bahkan hingga ke Ternate.

Namun kini, suara mesin panen tergantikan oleh raungan ekskavator. Dari tanah yang dulu menghasilkan pangan, kini mengalir nikel mentah ke pelabuhan-pelabuhan ekspor. Sementara itu, masyarakat transmigran yang dulu dijanjikan kesejahteraan justru terpinggirkan.

No More Posts Available.

No more pages to load.