Suksesi Demokrasi Lokal dan Konstruksi Narasi Kegaduhan

oleh -7 Dilihat

Keadaan pun menjadi rumit jika pihak yang berkepentingan terutama elit politik mencoba memanfaatkan situasi sambil sibuk mengkonstruksi makna masing-masing sehingga menyebabkan narasi kegaduhan kian menjadi perbincangan warga. Pun demikian diksi seperti kaco (kacau atau membuat onar) dan mau keto (mabuk) sebagai preposisi negatif yang ditujukan ke warga jazirah Oba dan suku Sangir yang terpleset, ramai menjadi bahan gunjingan dan dikritik oleh khalayak sebagai pilihan kata yang tak patut disampaikan serta dianggap sebagai problem public-speaking yang memantik kegaduhan publik.

Dalam perspektif komunikasi politik kaitannya dengan problem public-speaking, dapat dibedakan antara argumentatif dan verbal agresif. Dominic Ifanta (1996) membedakan keduanya: Argumentasi selalu bersandar pada alasan, nalar, logika berfikir, dan tautan data atau fakta yang bisa menjadi penguatnya. Sementara agresivitas verbal menyerang ide, keyakinan, ego atau konsep diri orang lain.

Baca Juga  Pangdam XV/Pattimura Tegaskan Masuk TNI Gratis, Calo Terbukti Terlibat Terancam Dipecat

Dari sisi narasi komunikasi yang dipilih, selama proses wacana kandidasi pilkada selama beberapa bulan terakhir ini, masih didominasi oleh pilihan agresivitas verbal yang mengarah ke emosi, dibanding pertarungan gagasan dan program yang membutuhkan argumentasi. Persoalan yang mengemuka dan ramai menjadi narasi kegaduhan tidaklah substansial melainkan baru sekedar memalingkan perhatian khalayak pada polemik dan kontroversi.

No More Posts Available.

No more pages to load.