Sunan Kuning Bakal Tinggal Nama

oleh -142 views
Link Banner

@porostimur.com | Semarang: Kawasan prostitusi terbesar di Jawa Tengah, Sunan Kuning, nampaknya bakal tinggal nama. Hal ini menyusul sikap Satpol PP Kota Semarang yang siap mentutup lokasi tersebut, pada 16 Agustus 2019 memdatanh. Penutupan Sunan Kuning, mengacu gerakan Indonesia Bebas Prostitusi yang sudah dicanangkan Kemensos.

“Saya punya nyali tutup dua lokalisasi di antaranya Sunan Kuning, dan Gambilangu Semarang. Tidak kayak Kepala Satpol yang dulu, bisa gusur PKL tapi tidak bisa gusur PSK,” kata Kepala Satpol PP Kota Semarang, Fajar Purwoto di Semarang, Jumat (21/6).

Dia menyebut untuk satu lokalisasi Gambilangu sendiri, pihaknya sudah berkoordinasi dengan Pemkab Kendal diminta tutup sekalian.

“Jadi ada lokalisasi di Gambilangu wilayahnya sebagian kebetulan perbatasan dengan Kendal. Untuk yang Kendal kami minta untuk juga ditutup. Semua sudah dilakukan secara matang dan sudah meminta persetujuan tokoh masyarakat yang menghuni kawasan lokalisasi. Karena bagaimana pun Kota Semarang dengan perkembangannya sangat pesat, seharusnya memang sudah tidak ada lagi kawasan lokalisasi,” tuturnya.

Terkait penutupan Sunan Kuning akan dikerjakan bertahap. Sedangkan wanita pekerja seks sebanyak 479 Sunan Kuning tidak akan direlokasi ke daerah lainnya. Dana tali asih yang sedang disiapkan berjumlah ratusan juta. Fajar menyebut setiap pekerja seks di Sunan Kuning akan mendapat dana tali asih senilai Rp 5 juta.

Baca Juga  DPRD Tolak Rp40.6 Milyar Pinjaman Daerah yang Diusulkan Pemkot Ternate

“Kita pulangkan ke kampung halaman masing-masing. Saat ini kita berikan santunan Rp 5 juta per orang itu diberikan bisa jadi uang saku buat mereka saat dipulangkan ke kampung halaman masing-masing,” ujarnya.

Dengan diberikan santunan tali asih, nantinya wanita pekerja seks tersebut harus bisa memanfaatkan uang saku dari Pemkot untuk membuka usaha di kampungnya. Sebab mereka juga sudah dibekali ragam pelatihan kewirausahaan selama tinggal di Sunan Kuning.

“Toh kalaupun tidak bisa buka usaha, yang namanya jualan dimanapun pasti selalu laku. Enggak harus di Sunan Kuning. Saya yakin yang namanya bisnis lendir di dunia ini tidak akan surut. Hanya saja kita harus menghapusnya di Semarang. Sunan Kuning kan sudah terlanjur mendunia sebagai pusat prostitusi,” tutup Fajar Purwoto. (red)