“Kita pulangkan ke kampung halaman masing-masing. Saat ini kita berikan santunan Rp 5 juta per orang itu diberikan bisa jadi uang saku buat mereka saat dipulangkan ke kampung halaman masing-masing,” ujarnya.
Dengan diberikan santunan tali asih, nantinya wanita pekerja seks tersebut harus bisa memanfaatkan uang saku dari Pemkot untuk membuka usaha di kampungnya. Sebab mereka juga sudah dibekali ragam pelatihan kewirausahaan selama tinggal di Sunan Kuning.
“Toh kalaupun tidak bisa buka usaha, yang namanya jualan dimanapun pasti selalu laku. Enggak harus di Sunan Kuning. Saya yakin yang namanya bisnis lendir di dunia ini tidak akan surut. Hanya saja kita harus menghapusnya di Semarang. Sunan Kuning kan sudah terlanjur mendunia sebagai pusat prostitusi,” tutup Fajar Purwoto. (red)




