Saya tidak mengatakan bahwa Takjil War itu salah. Ia juga membentuk masyarakat. Para pelaku Takjil War saling berbagi diantara sesamanya. Sama-sama menikmati makanan yang turah-turah itu. Sekaligus ia juga mengungkap kekuatan konsumerisme tanpa batas.
Ada satu peringatan juga di sini. Bahwa ada kontradiksi sangat besar dalam masyarakat yang semakin saleh sekarang ini. Yang satu, rakus tanpa batas. Yang kedua kekurangan selamanya. Keduanya tidak pernah bertemu. Apalagi bersolidaritas satu sama lain.
Silahkan berbelanja dan makan sampai tembolokmu tidak sanggup menampungnya. It’s a free country! Namun, tolong, jangan bilang ini adalah bentuk ‘kerukunan antar umat beragama!’
Sama sekali tidak! Ini adalah kerukunan sesama manusia yang diperbudak konsumerisme.
Keindahan kapitalisme adalah ia memberi banyak pilihan dan mendorong kowe untuk mengambil sebanyak mungkin! Kapitalisme tidak pernah memenuhi kebutuhanmu. Ia menciptakan kebutuhanmu; merayu kowe untuk mengkonsumsi lebih banyak. Jangan sekali-kali mengaburkannya atau memanipulasinya sebagai agama! (*)









