Tanpa Kubu Tetap

oleh -32 views
Oleh: Ahmadie Thaha, Kolumnis

Apa yang dilakukan Jakarta — bermain di antara BRICS, Amerika Serikat, Rusia, dan kekuatan regional — bukanlah anomali. Ia adalah gejala dari perubahan yang lebih besar.

Brazil di bawah Luiz Inácio Lula da Silva berbicara tentang dedolarisasi, tapi tetap menjaga hubungan erat dengan Barat. Arab Saudi membuka pintu bagi investasi China, sambil tetap berteduh di bawah payung keamanan Amerika. Vietnam mempererat hubungan strategis dengan Washington, tanpa memutus relasi ekonomi dengan Beijing.

Semua bergerak dalam satu pola yang sama: bukan memilih kubu, tapi memaksimalkan posisi.

Dalam literatur klasik, gagasan ini sebenarnya punya akar. Stephen Walt, pemikir realisme, memperkenalkan teori balance of threat (keseimbangan ancaman) — bahwa negara tidak sekadar menyeimbangkan kekuatan, tapi ancaman.

Namun hari ini skalanya berubah. Ancaman tidak lagi tunggal. Ia datang dari energi, teknologi, finansial, bahkan mata uang. Maka responsnya pun tidak cukup dengan satu aliansi. Ia membutuhkan banyak jalur sekaligus.

Baca Juga  Omoda O4 Meluncur, SUV Kompak Bermesin Hybrid dan Listrik

Di sinilah hedging berevolusi. Ia bukan lagi sekadar strategi berjaga-jaga, tapi berubah menjadi mekanisme aktif untuk mengekstraksi nilai dari setiap hubungan. Seolah-olah setiap negara kini membawa keranjang sendiri ke pasar global — bukan untuk membeli, tapi untuk berdagang.

No More Posts Available.

No more pages to load.