Ternate, Sultan Jabir dan Federalisme yang Pulang dari Masa Lalu

oleh -672 Dilihat

Indonesia adalah Ternate yang pernah menjadi pusat perdagangan dunia.

Indonesia adalah Maluku yang pernah membuat Eropa datang dengan kapal-kapalnya.

Indonesia adalah Papua yang membentang di ufuk timur.

Indonesia adalah Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Sumatra, Jawa—seluruh gugusan tanah dan air yang memilih hidup dalam satu rumah bernama republik.

Maka, ketika federalisme kembali dibicarakan di Maluku Utara, janganlah kita buru-buru menutup pintunya.

Dengarkan dahulu.

Barangkali di balik kata itu ada kemarahan.

Barangkali ada kekecewaan.

Barangkali ada kerinduan pada martabat daerah.

Tetapi barangkali pula ada sesuatu yang lebih sederhana: keinginan agar republik memperlakukan semua anaknya sebagai anak sendiri.

Di Ternate, laut selalu mengajarkan bahwa horizon tidak pernah benar-benar selesai.

Baca Juga  Menko Bahlil Dampingi Presiden Lepas Ekspor Perdana Baterai Listrik di Halmahera Tengah

Ia hanya bergerak menjauh ketika kita mendekatinya.

Begitu pula Indonesia.

Republik ini belum selesai.

Ia masih harus terus dirawat, diperdebatkan, dikritik dan diperbaiki.

Sultan Muhammad Jabir Syah pernah membayangkan sebuah republik yang bersatu tetapi memberi ruang kepada daerah.

Hari ini, gagasan itu mungkin tidak perlu diterima seluruhnya.

Tetapi ia layak didengar kembali.

Sebab terkadang masa lalu tidak pulang untuk meminta kita kembali ke belakang.

No More Posts Available.

No more pages to load.