Selain itu mereka juga diberi jadwal senam pagi. “Kalau pagi kami di bagi per lantai, kalau senin lantai 1 senam, selasa lantai 2 dst, itu d mulai dari jam 8 s/d 9”, tukasnya.
“Kami hanya di kamar. Dsini ada teman2 yg tra bisa tidor malam, dan batuk minta CTM sama obat batuk saja dong tra kase“, pungkasnya.
R menambahkan, selama menjalani karantina Dia dan pasien lain tidak pernah diperiksa oleh dokter.

Mengutip tandaseru.com, Hal senada juga disampaikan Y, pasien positif lain. Y bilang, ia diambil spesimennya pada 9 Mei dan baru tanggal 13 Juni hasilnya keluar dimana ia dinyatakan positif terinfeksi virus corona.
“Kami menunggu hasil keluar itu sangat lama. Kami juga jenuh, karena test swab itu terlalu lama,” kesalnya.
Dia juga mempertanyakan kemungkinan pasien melakukan tes mandiri jika tes cepat molekuler (TCM) di RSUD Chasan Boesoirie memakan waktu terlalu lama.
Keluhan yang sama disampaikan F. Tak hanya itu, F juga menyentil makanan untuk pasien yang sering terlambat diberikan, melebihi jam makan.
“Adapun jam makan yang telat. Jangan-jangan kita ini bukan pasien Covid-19 tapi malah jadi depresi. Lama-lama kami bisa gangguan jiwa,” ungkapnya.
Ia mengaku telah dikarantina hampir 2 bulan lamanya. Protokol kesehatan selalu dijalankan, begitu pula pasien lainnya. Namun hingga kini tak ada kejelasan kapan hasil swab mereka bisa diumumkan.




