Ternyata Pasien Covid-19 di Lokasi Karantina Sahid Bella Hotel Cuma Dikasih Vitamin C

oleh -861 views
Link Banner

Porostimur.com | Ternate: Puluhan pasien positif Covid-19 yang tengah menjalani karantina di Sahid Bella Hotel, Ternate menggelar aksi protes.

Para pasien mempertanyakan hasil uji spesimen mereka yang memakan waktu hingga berbulan-bulan ketika mengikuti senam, pagi tadi pukul 08.54 WIT, Senin (22/6/2020).

Melansir tandaseru.com, aksi protes tersebut dilakukan dengan membentangkan kertas karton berisi tuntutan mereka. Aksi dilakukan digelar di tengah kegiatan senam pagi rutin pasien di tepi kolam renang hotel.

Di tengah-tengah senam, pasien berhenti dan mulai mengangkat spanduk yang tampaknya telah disiapkan sebelumnya. Tak hanya itu, pasien yang senam dari balkon kamar hotel juga melakukan hal yang sama.

Link Banner

R, (38) tahun, salah satu pasien positif Covid-19 asal Ternate Utara mengungkapkan, sudah sebulan lebih ia dan pasien lain mempertanyakan hasil swab test follow up mereka.

“Setelah saya menulis surat tgl 14, besoknya tgl 15 saya p hasil kaluar dengan hasil positif, tapi dari surat keterangan positif yg di keluarkan gugus, tgl pengambilan swab salah”, kata R melalui pesan WhatsApp.

Baca Juga  Sahroni Hirto: Keretakan Gubernur & Wagub Malut Akibat Monopoli Kebijakan

R bercerita, selama menjalani karantina, mereka hanya diberi vitamin dalam bentuk kapsul dan makan tiga kali sehari.

Selain itu mereka juga diberi jadwal senam pagi. “Kalau pagi kami di bagi per lantai, kalau senin lantai 1 senam, selasa lantai 2 dst, itu d mulai dari jam 8 s/d 9”, tukasnya.

Kami hanya di kamar. Dsini ada teman2 yg tra bisa tidor malam, dan batuk minta CTM sama obat batuk saja dong tra kase“, pungkasnya.

R menambahkan, selama menjalani karantina Dia dan pasien lain tidak pernah diperiksa oleh dokter.

Vitamin C yang dikonsumsi pasien Covid-19 di lokasi karantina Sahid Bella Hotel

Mengutip tandaseru.com, Hal senada juga disampaikan Y, pasien positif lain. Y bilang, ia diambil spesimennya pada 9 Mei dan baru tanggal 13 Juni hasilnya keluar dimana ia dinyatakan positif terinfeksi virus corona.

“Kami menunggu hasil keluar itu sangat lama. Kami juga jenuh, karena test swab itu terlalu lama,” kesalnya.

Dia juga mempertanyakan kemungkinan pasien melakukan tes mandiri jika tes cepat molekuler (TCM) di RSUD Chasan Boesoirie memakan waktu terlalu lama.

Baca Juga  Bhabinkamtibmas Desa Busua Salurkan Bansos Kepada Warga Binaannya

Keluhan yang sama disampaikan F. Tak hanya itu, F juga menyentil makanan untuk pasien yang sering terlambat diberikan, melebihi jam makan.

“Adapun jam makan yang telat. Jangan-jangan kita ini bukan pasien Covid-19 tapi malah jadi depresi. Lama-lama kami bisa gangguan jiwa,” ungkapnya.

Ia mengaku telah dikarantina hampir 2 bulan lamanya. Protokol kesehatan selalu dijalankan, begitu pula pasien lainnya. Namun hingga kini tak ada kejelasan kapan hasil swab mereka bisa diumumkan.

Dokter Penanggungjawab (DPJP) Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Maluku Utara, dr. Dwi Handoko, Sp.P yang tengah berada di Sahid pun menjawab keluhan para pasien tersebut. Handoko mengungkapkan, pemeriksaan spesimen di laboratorium membutuhkan waktu lantaran fasilitas pemeriksaan yang terbatas dibandingkan jumlah pasien yang harus diuji spesimennya.

“Selain itu, ada yang (karantina) 14 hari baru diperiksa, ada yang 20 hari. Ini merupakan kendala  yang kami hadapi karema laboratorimun yang jauh,” terangnya.

Satu-satunya dokter spesialis paru di Kota Ternate itu menyatakan, tenaga medis pun mengalami rasa jenuh yang sama dengan pasien. Bahkan mereka juga merasa kelelahan lantaran jumlah pasien yang terus bertambah.

Baca Juga  Kejati Rencana Garap Lagi KM. Fay Sayang, Wagub Malut di Ujung Tanduk

“Namun kami tetap memberikan yang terbaik untuk Maluku Utara. Dan hari ini bakal ada dua pasien positif yang sembuh,” terang Handoko.

Dia menambahkan, pasien harus dikarantina di lokasi karantina lantaran karantina mandiri di rumah dikhawatirkan tidak efektif. Karena itu, ia meminta pasien untuk bersabar.

“Jika karantina di rumah takutnya tidak maksimal, dan malah wabah ini tidak pernah berakhir,” tandasnya.

Setelah mendapat penjelasan dari dr. Handoko, para pasien sempat mendengarkan wejangan dari Kepala Dinas Kesehatan Malut, dr. Idhar Sidi Umar. Idhar juga meminta maaf pada pasien jika masih ada pelayanan yang dirasa kurang memuaskan.

“Kami juga sampaikan terima kasih kepada dr. Handoko dan semua perawat yang hingga saat ini masih konsisten merawat pasien,” pungkasnya.

Pasien kemudian membubarkan diri dan kembali ke kamar masing-masing usai berbicara dengan Kadinkes Malut.